PDIP Pilih Tenang Menanggapi Pernyataan Kaesang soal Jawa Tengah

JurnalPatroliNews – Jakarta – PDI Perjuangan tidak menunjukkan reaksi keras terhadap pernyataan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep yang menyebut Jawa Tengah sebagai target “kandang gajah”. Partai berlambang banteng itu memilih bersikap tenang dan tidak terpancing oleh ambisi politik tersebut.

Selama ini, Jawa Tengah dikenal luas sebagai salah satu basis suara terkuat PDIP. Dominasi partai tersebut dalam berbagai pemilu, baik legislatif maupun eksekutif, membuat wilayah ini kerap dijuluki “kandang banteng”. Kekuatan politik itu bahkan telah teruji melalui kemenangan beruntun dalam pemilihan gubernur serta solidnya dukungan di tingkat kabupaten dan kota.

Karena itu, Jawa Tengah bukan hanya daerah strategis, tetapi juga simbol penting bagi eksistensi dan pengaruh PDIP di kancah nasional.

Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai respons PDIP yang cenderung datar justru menyimpan pesan politik tersendiri. Menurutnya, sikap Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto jauh dari gambaran reaksi keras yang mungkin diharapkan publik.

“Setelah pernyataan Kaesang muncul, Hasto tidak memberikan respons yang tajam. Sikapnya normatif dan terkesan biasa saja,” ujar Adi melalui kanal YouTube miliknya, Kamis, 15 Januari 2026.

Alih-alih menanggapi pernyataan PSI secara langsung, Hasto lebih menyoroti fokus internal PDIP, termasuk konsolidasi partai serta keterlibatan dalam kegiatan kemanusiaan. Salah satunya adalah kontribusi PDIP dalam penanganan bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera.

Adi menilai, pilihan sikap ini membuat sebagian publik yang menunggu balasan politik dari PDIP tidak mendapatkan respons seperti yang mereka perkirakan. PDIP, kata dia, tampak menempatkan pernyataan PSI sebagai isu yang tidak terlalu krusial.

“Tidak ada serangan balik atau pernyataan keras. Yang disampaikan hanya respons biasa dan cenderung menenangkan,” jelasnya.

Lebih jauh, Adi menyebut PDIP melihat kontestasi politik sebagai proses yang pada akhirnya ditentukan oleh rakyat melalui pemilu, sementara agenda politik elektoral masih terbentang panjang.

“Penentu pertarungan politik adalah rakyat. Pemilu juga masih jauh. Saat ini, isu kemanusiaan jauh lebih relevan,” ujarnya.

Sikap tersebut mencerminkan pesan bahwa di tengah situasi bencana dan tantangan sosial, wacana persaingan elektoral bukanlah prioritas utama.

“Sepertinya PDIP ingin menegaskan bahwa di tengah musibah, membicarakan politik elektoral tidak produktif. Apalagi waktunya masih lama,” tutup Adi.