Vietnam Kena Tarif Tinggi AS, Samsung Panik!

Vietnam sendiri saat ini sedang mengupayakan agar tarif tersebut bisa ditekan ke kisaran 22% hingga 28%, atau kalau bisa lebih rendah. Tapi tantangan tak berhenti di sana. Surplus perdagangan Vietnam terhadap Amerika Serikat yang mencapai sekitar USD 120 miliar turut menjadi sorotan utama Trump, yang berpotensi memicu langkah proteksionis lebih lanjut.

Dalam kondisi yang belum menentu ini, Samsung bersama para pemasoknya mulai mempertimbangkan relokasi sebagian operasinya ke negara lain, seperti India atau bahkan kembali memperbesar produksi di Korea Selatan. Namun, langkah tersebut bukan tanpa konsekuensi — dari biaya tinggi hingga waktu implementasi yang panjang.

Ketika diminta menanggapi situasi tersebut, pihak Samsung menolak berkomentar secara spesifik, hanya menyatakan bahwa mereka siap menyesuaikan strategi rantai pasok global secara fleksibel.

Sementara itu, saingan berat Samsung, Apple, menghadapi tekanan yang bahkan lebih besar. Sekitar 80% iPhone yang dijual di pasar AS berasal dari Tiongkok, dan kini produk-produk itu terkena tarif hingga 145%. Meski demikian, Apple belum memberikan komentar resmi.

Tarif bukan satu-satunya hal yang membuat Vietnam jadi lokasi produksi yang mulai “panas.” Negara ini juga tengah dilanda krisis listrik dan kenaikan tarif pajak yang signifikan, seiring diterapkannya aturan global dari OECD tentang perpajakan perusahaan multinasional. Banyak perusahaan mulai menilai bahwa insentif pajak yang dulu menjadi daya tarik Vietnam kini tidak lagi kompetitif.

Dalam pusaran ketegangan dagang global dan pergeseran arah ekonomi, posisi Vietnam sebagai pusat manufaktur mulai terancam. Dan bagi Samsung, yang sudah menanamkan miliaran dolar di sana, tantangan ini bisa menjadi awal dari babak strategi baru dalam peta industri teknologi dunia.