JurnalPatroliNews – Garut – Komitmen melestarikan satwa dilindungi kembali diperkuat SMK Negeri 4 Garut. Sekolah vokasi tersebut menggelar Konsultasi Publik Pengamatan Kukang Jawa di Aula SMKN 4 Garut. Kegiatan ini berfokus pada kawasan konservasi Karacak Valley, Gunung Karacak, Rabu (3/6/2026).
Forum tersebut menghadirkan pemangku kepentingan dari unsur akademisi, komunitas lingkungan, pemerintah, dan masyarakat. Tujuannya merumuskan strategi kolaboratif untuk melindungi Kukang Jawa, primata endemik Jawa Barat yang berstatus critically endangered atau kritis.
Kepala SMKN 4 Garut, Pudji Santoso, menjelaskan bahwa program konservasi ini menjadi bagian dari penguatan pendidikan vokasi berbasis lingkungan. Melalui program ini, siswa Jurusan Kehutanan tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat langsung dalam pengelolaan ekosistem.
“Program ini memadukan pembelajaran berbasis kompetensi dengan praktik lapangan. Siswa kami terlibat langsung dalam upaya pelestarian hutan dan satwa liar, khususnya Kukang Jawa,” ujar Pudji.
Program ini merupakan kolaborasi dengan PT Federal International Finance (FIF) melalui program CSR lingkungan. Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat dan Perum Perhutani KPH Garut juga turut mendukung pengembangan kawasan konservasi.
Pudji mengungkapkan, kemitraan dengan FIF telah berlangsung delapan tahun. Enam tahun pertama difokuskan pada penghijauan. Dalam dua tahun terakhir, program diperluas ke konservasi Kukang Jawa dan pemantauan habitatnya.
Setiap tahun, sekitar 136 siswa Jurusan Kehutanan terlibat secara bergilir. Aktivitasnya meliputi penanaman pohon, observasi malam untuk memantau Kukang Jawa, serta monitoring kondisi habitat.
“Keberlanjutan pemantauan menjadi tantangan. Karena itu, observasi lapangan akan kami integrasikan ke kurikulum Jurusan Kehutanan agar konservasi berjalan konsisten,” tegas Pudji.
Kepala Seksi Madya Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Perhutani KPH Garut, Saryana, menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan Wisata Alam Karacak Valley. Kawasan di RPH Karangpawitan, BKPH Cibatu itu dinilai strategis sebagai pusat edukasi konservasi.
“Perhutani berkomitmen memberi akses dan pendampingan agar pengelolaan kawasan sesuai prinsip keberlanjutan. Kami terbuka untuk kerja sama konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati,” kata Saryana. Ia menegaskan Perhutani berperan sebagai fasilitator penyedia lokasi, tanpa mencampuri substansi penelitian.
Sementara itu, Ketua Tim Pelaksana Konsultasi Publik Biodiversity, Dadan Arief NM, memaparkan urgensi penyelamatan Kukang Jawa. Satwa ini masuk daftar 25 primata paling terancam punah di dunia akibat perdagangan ilegal, perburuan, dan alih fungsi hutan.
“Berdasarkan laporan warga soal perburuan malam, tim melakukan survei sejak Juli-Desember 2025. Kami berhasil mendokumentasikan sembilan individu Kukang Jawa di lokasi penelitian,” jelas Dadan.
Menurutnya, pemulihan populasi masih sangat mungkin melalui pengayaan habitat. Fokusnya adalah menambah sumber pakan, tempat berlindung, dan area jelajah. Ancaman terbesar saat ini berasal dari perburuan dengan anjing pemburu dan fragmentasi hutan.
Sebagai tindak lanjut, tahun ini tim dan pemangku kepentingan akan melakukan penanaman di lahan seluas lima hektare di Karacak Valley. Langkah ini diharapkan meningkatkan kualitas habitat sekaligus memperkuat peluang pertumbuhan populasi Kukang Jawa.
“Kukang Jawa memang di ambang kepunahan. Namun kami optimistis populasinya bisa pulih jika kualitas habitat diperbaiki secara berkelanjutan dan berbasis pendekatan teknis yang tepat,” tutup Dadan.
Melalui konsultasi publik ini, SMKN 4 Garut berharap mendapat masukan konstruktif dari berbagai pihak. Sinergi tersebut diyakini dapat memperkuat pelestarian Kukang Jawa dan ekosistem Hutan Karacak Valley secara berkelanjutan.













Komentar