JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa relasi antara Partai Gerindra dan PDI Perjuangan ibarat saudara kandung yang tetap saling mendukung walau kini berada di koalisi yang berbeda.
Pernyataan ini mendapat respons dari pengamat politik Hendri Satrio, yang melihat adanya sinyal kuat kerja sama lintas partai dalam pernyataan tersebut.
Hendri, yang dikenal dengan sapaan Hensat, menilai bahwa pernyataan “kakak-adik” dari Prabowo bukanlah sekadar ungkapan basa-basi. Menurutnya, itu merupakan simbol kedekatan politik yang tetap terjalin, meskipun Gerindra dan PDIP kini menempuh jalan politik yang terpisah.
“Ini menunjukkan bahwa meskipun berbeda koalisi, kedua partai masih memiliki visi kebangsaan yang senada. Saat negara membutuhkan, mereka bisa saling menguatkan,” kata Hensat kepada awak media, Senin, 21 Juli 2025.
Ia juga menyoroti posisi strategis yang kini dipegang oleh masing-masing tokoh sentral dari kedua partai: Prabowo sebagai Presiden RI dan Ketua Umum Partai Gerindra, serta Puan Maharani sebagai Ketua DPR RI sekaligus petinggi PDI Perjuangan. Kedua tokoh ini, menurut Hensat, merepresentasikan kemandirian partai yang tidak tunduk pada pengaruh eksternal.
“Gerindra dan PDIP sudah punya basis kekuatan sendiri. Mereka mandiri secara politik. Tidak tergantung pada sosok dominan seperti dulu,” ucap pendiri lembaga survei Kedai KOPI tersebut.
Hensat bahkan percaya bahwa kolaborasi terbuka antarpartai ini tinggal menunggu momentum. Ia merujuk pada dua pertemuan Prabowo dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, sebagai bukti bahwa saluran komunikasi di level tertinggi masih sangat aktif.
“Kalau sinyal sudah jelas, tinggal tunggu waktu kapan akan bersinergi secara terbuka,” ujarnya.
Dalam acara peluncuran Koperasi Desa Merah Putih di Klaten beberapa waktu lalu, Prabowo menyampaikan bahwa relasi antara Gerindra dan PDIP ibarat kakak beradik yang tidak bisa tinggal satu rumah karena aturan demokrasi yang menekankan pembagian kekuatan.
“Kita ini seperti saudara kandung, hanya saja karena sistem demokrasi kita meniru sistem negara-negara barat, jadi tidak bisa langsung satu koalisi,” ungkap Prabowo saat itu.














