Impor Produk AS Tanpa Tarif Ancam Petani Lokal, Subsidi Besar Jadi Pemicu

JurnalPatroliNews – Jakarta – Nasib petani Indonesia kian tertekan menyusul kesepakatan dagang terbaru antara Amerika Serikat dan Indonesia yang membuka lebar keran impor produk pertanian dari Negeri Paman Sam.

Lutfiyah Hanim, peneliti dari Third World Network (TWN), mengungkapkan bahwa produk pertanian asal AS sangat kompetitif karena ditopang subsidi jumbo dari pemerintah. Dalam diskusi publik daring yang digelar Selasa lalu, ia memaparkan bahwa sektor pertanian di AS diguyur dana subsidi mencapai 20 miliar dolar AS per tahun—setara sekitar Rp325 triliun—yang memicu surplus produksi dan mendorong ekspor besar-besaran ke pasar global, termasuk Indonesia.

“Subsidi besar membuat hasil pertanian AS membanjiri pasar dunia. Produksi yang melimpah otomatis menurunkan harga ekspor, dan ini berdampak langsung pada petani lokal,” kata Hanim.

Ia memperingatkan bahwa kondisi ini akan semakin diperparah dengan dihapuskannya tarif masuk untuk produk pertanian dari AS ke Indonesia. Tanpa beban tarif, produk asing akan lebih murah dan mudah menguasai pasar domestik, menyingkirkan produk lokal yang tidak mendapat perlindungan serupa.

“Produk pertanian AS unggul harga bukan karena efisiensi, tapi karena subsidi. Tanpa tarif, persaingan jadi sangat tidak adil,” tambahnya.

Contoh paling nyata, kata Hanim, adalah kedelai. Meski selisih harga antara kedelai lokal dan impor tidak jauh berbeda, konsumen tetap memilih kedelai dari AS karena lebih murah dan pasokannya stabil. Padahal, harga rendah itu bukan hasil efisiensi produksi, melainkan akibat subsidi besar-besaran dari pemerintah AS.

Isu subsidi pertanian sebenarnya telah lama menjadi perhatian global dalam perundingan WTO. Namun, Hanim menilai diskusi tersebut tidak pernah menghasilkan kemajuan signifikan karena negara-negara maju, termasuk AS dan Uni Eropa, tetap enggan mengurangi dukungan fiskal terhadap sektor pertaniannya.

Lebih lanjut, Hanim menjelaskan bahwa jenis komoditas yang disubsidi pun bisa berubah mengikuti kepentingan strategis AS. Sebagai contoh, ketika fokus beralih ke produksi etanol, subsidi jagung ditingkatkan sementara dukungan untuk kedelai dikurangi. Dampaknya, negara pengimpor seperti Indonesia yang bergantung pada pasokan luar negeri bisa mengalami lonjakan harga mendadak.

“Kita sudah terlalu tergantung pada impor kedelai. Ketika AS mengalihkan subsidinya, harga di pasar domestik langsung terdampak,” tegasnya.

Sementara itu, dalam klausul perjanjian dagang terbaru, Presiden Donald Trump menetapkan tarif impor sebesar 19 persen untuk barang ekspor asal Indonesia ke AS—turun dari sebelumnya 32 persen. Sebagai gantinya, AS memperoleh akses bebas tarif ke sejumlah sumber daya alam Indonesia, termasuk tembaga.

“Kami tidak akan membayar tarif apa pun. Ini adalah akses yang belum pernah kami miliki sebelumnya, dan itulah bagian paling penting dari kesepakatan ini,” ujar Trump dalam pernyataannya.

Kesepakatan ini memunculkan kekhawatiran bahwa keuntungan yang diperoleh Indonesia hanya bersifat jangka pendek, sementara ketergantungan terhadap produk impor AS akan semakin dalam. Para pengamat pun menyerukan agar pemerintah memperkuat proteksi bagi petani lokal sebelum terlalu banyak ruang pasar yang diambil alih produk asing bersubsidi.