Bentrok Berdarah Thailand-Kamboja Memanas Lagi, Jet Tempur Dikerahkan

JurnalPatroliNews – Jakarta – Ketegangan di kawasan perbatasan Thailand dan Kamboja kembali meningkat tajam. Dua negara Asia Tenggara itu terlibat aksi saling serang yang menewaskan sejumlah warga dan melukai puluhan lainnya.

Konflik antara Thailand dan Kamboja bukan hal baru. Perseteruan yang sudah berakar puluhan tahun ini sebelumnya pernah berubah menjadi bentrokan bersenjata lebih dari 15 tahun lalu. Ketegangan kembali muncul akhir Mei lalu, saat baku tembak terjadi di kawasan perbatasan yang dikenal sebagai “Segitiga Zamrud”, tempat bertemunya wilayah Kamboja, Thailand, dan Laos. Insiden tersebut menewaskan satu prajurit dari pihak Kamboja.

Meski sempat disepakati penarikan pasukan dari wilayah sengketa, situasi tetap panas. Api konflik kembali berkobar pada Rabu (23/7), saat lima tentara Thailand menjadi korban ledakan ranjau di Distrik Nam Yuen, Provinsi Ubon Ratchathani. Salah satu korban bahkan harus kehilangan kakinya. Militer Thailand menuding ranjau itu dipasang oleh pihak Kamboja.

Penjabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, mengklaim penyelidikan militer menunjukkan adanya ranjau baru yang ditanam di wilayah perbatasan, memperkuat tuduhan terhadap Phnom Penh. Namun, tuduhan itu dibantah tegas oleh Kamboja. Mereka menegaskan bahwa wilayah tersebut masih menyimpan banyak ranjau sisa konflik masa lalu yang belum seluruhnya dibersihkan.

Akibat insiden ini, kedua negara saling meluncurkan balasan. Thailand memperketat perbatasan, sementara Kamboja menangguhkan impor beberapa produk dari Thailand. Situasi makin tegang ketika Thailand mengusir Duta Besar Kamboja dan menarik utusannya dari Phnom Penh.

Serangan terbaru dari militer Kamboja menyebabkan korban jiwa di Thailand. Menteri Kesehatan Thailand, Somsak Thepsuthin, melaporkan 12 korban meninggal dunia—terdiri dari 11 warga sipil dan satu prajurit. Serangan tersebut juga menyebabkan lebih dari 30 orang luka-luka, dan menyasar beberapa titik, termasuk SPBU di Provinsi Sisaket dan Buriram.

Militer Thailand mengecam keras tindakan Kamboja, menyebutnya sebagai serangan terhadap rakyat sipil dan berjanji akan mempertahankan wilayah serta keselamatan warganya.

Sebagai respons, Thailand mengerahkan enam unit jet tempur F-16 dari Pangkalan Udara di Ubon Ratchathani. Jet-jet tersebut dikirim untuk menghantam dua sasaran militer di dalam wilayah Kamboja.

“Kami melakukan operasi udara sesuai rencana terhadap target-target militer lawan,” ujar Wakil Juru Bicara Militer Thailand, Ritcha Suksuwanon.

Tindakan Thailand memicu kemarahan Phnom Penh. Pemerintah Kamboja menyebut serangan udara itu sebagai tindakan agresi yang kejam dan melanggar kedaulatan. Dalam pernyataan resmi, Kementerian Pertahanan Kamboja menegaskan bahwa jet tempur Thailand menjatuhkan dua bom ke jalanan di wilayah mereka, memperparah situasi yang sudah genting.