JurnalPatroliNews – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengunjungi SMP Negeri 5 Bandung dalam rangka peluncuran program nasional pemeriksaan kesehatan gratis untuk pelajar. Dalam kesempatan tersebut, Budi menjelaskan bahwa sekolah bisa meminta bantuan dari Puskesmas setempat untuk melakukan pemeriksaan langsung di lokasi.
“Kita punya sekitar 10 ribu Puskesmas, masing-masing dengan 30–40 tenaga, jadi ada sekitar setengah juta orang yang siap mendukung program ini,” ujar Budi.
Tujuan utama program ini adalah untuk mendeteksi dini berbagai potensi gangguan kesehatan pada anak-anak sekolah. Berdasarkan hasil awal dari pemeriksaan di beberapa lokasi, ditemukan bahwa gangguan penglihatan merupakan masalah paling umum, disusul anemia, gigi berlubang, dan karang gigi. “Masalah mata biasanya karena terlalu sering menatap layar ponsel,” tambahnya. Ia juga menegaskan bahwa program ini harus sepenuhnya gratis tanpa pungutan biaya apa pun.
Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan, menyatakan bahwa lebih dari 8,6 juta pelajar di wilayahnya akan menjadi prioritas pemeriksaan kesehatan. Kementerian Kesehatan akan mengklasifikasikan kondisi siswa di tiap sekolah ke dalam zona merah, kuning, atau hijau, tergantung hasil evaluasi kesehatan mereka.
“Sekolah dalam kategori zona merah harus diberikan perhatian lebih, termasuk mengaktifkan kembali unit kesehatan sekolah dan melibatkan Puskesmas terdekat secara intensif,” kata Erwan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, menjelaskan bahwa siswa yang hasil pemeriksaannya membutuhkan tindak lanjut dapat mendatangi Puskesmas dengan membawa kartu BPJS. Untuk siswa yang belum memiliki jaminan kesehatan, pemerintah daerah akan membantu pendaftaran BPJS bagi mereka dan keluarganya, terutama bagi warga kurang mampu.
Program pemeriksaan ini digelar serentak di 12 wilayah, seperti Jakarta, Tangsel, Depok, Bandung, Semarang, Bojonegoro, hingga Sidoarjo. Pemerintah menargetkan lebih dari 53 juta siswa dari tingkat SD, SMP, SMA/SMK, hingga santri di pesantren akan diperiksa kesehatannya.
Aspek kesehatan yang dicek meliputi: status gizi, tekanan darah, penglihatan, pendengaran, kondisi gigi, kebugaran fisik, hingga kesehatan mental. Untuk pelajar SMP dan SMA, skrining diperluas dengan pemeriksaan anemia, talasemia, dan kesehatan reproduksi. Pemeriksaan pada siswa SD dilakukan tanpa pengambilan darah atau suntikan, cukup dengan pengukuran fisik dasar dan pengecekan indera.
Di Kota Bandung, program ini ditargetkan selesai sebelum tahun 2025 berakhir. Dewi Primasari, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung, mengungkapkan bahwa Puskesmas sudah mulai menyusun jadwal kunjungan ke sekolah-sekolah.
“Tantangan utamanya adalah jumlah siswa yang sangat besar,” ucap Dewi. Di SMPN 5 Bandung misalnya, terdapat 1.179 siswa yang harus diperiksa. Proses di sekolah ini diperkirakan memakan waktu hingga satu minggu.
Tim pemeriksa terdiri dari lebih dari 20 tenaga kesehatan yang berasal dari berbagai institusi, mulai dari Puskesmas, rumah sakit negeri maupun swasta, hingga klinik sekitar sekolah. Bahkan, beberapa dokter relawan dari kalangan orang tua murid turut terlibat dalam pelaksanaan pemeriksaan.














