Durian Runtuh Hilirisasi Nikel, RI Raup Triliunan Rupiah

JurnalPatroliNews – Indonesia mencatat lonjakan drastis pada nilai ekspor nikel setelah menerapkan kebijakan hilirisasi. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), nilai ekspor dari produk nikel olahan pada tahun 2024 mencapai US$ 33,9 miliar (setara Rp 555,51 triliun). Angka ini meningkat pesat jika dibandingkan dengan nilai ekspor nikel di tahun 2017 yang hanya mencapai US$ 3,3 miliar.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan dampak langsung dari larangan ekspor bijih nikel yang diberlakukan pemerintah sejak 2019. Kebijakan ini tidak hanya mendongkrak pendapatan, tetapi juga meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. Meski menghadapi “kampanye hitam” dari negara lain yang mempersoalkan isu lingkungan, Indonesia tetap konsisten mendorong hilirisasi.

Dengan cadangan nikel dunia sebesar 43%, Indonesia berambisi untuk membawa hilirisasi ke tahap yang lebih maju, yaitu produksi baterai kendaraan listrik (EV). Bahlil menyebutkan bahwa program hilirisasi ini memberikan nilai tambah yang luar biasa. Jika bijih nikel diolah menjadi nikel sulfat, nilai tambahnya meningkat 11,4 kali lipat. Bahkan, jika diubah menjadi produk sel baterai, nilai tambahnya bisa melonjak hingga 67,7 kali lipat.

Pemerintah terus berupaya memperkuat program ini dengan berbagai regulasi dan insentif, sambil tetap menolak tekanan dari investor dan negara lain agar kembali mengekspor bijih nikel mentah.