JurnalPatroliNwes – Jakarta – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) resmi mengumumkan jajaran pengurus pusat (DPP) untuk periode 2025–2030. Salah satu figur yang menarik perhatian publik adalah Adian Napitupulu, aktivis 1998 yang kini ditunjuk sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Komunikasi.
Penunjukan Adian dalam struktur inti partai berlambang banteng itu menuai respons positif dari berbagai kalangan, termasuk dari rekan-rekan sesama aktivis.
Salah satu ucapan selamat datang dari Rizki Faisal, Anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar yang juga menjabat sebagai Presidium Perhimpunan Nasional Aktivis (PENA) 98 wilayah Kepulauan Riau.
Menurut Rizki, langkah PDIP menempatkan Adian di posisi strategis tersebut merupakan keputusan yang sejalan dengan semangat reformasi.
“Adian adalah simbol perjuangan rakyat kecil. Sosok yang sejak masa kuliah telah menyuarakan suara mereka yang tak terdengar. Penunjukan ini adalah bentuk kepercayaan terhadap sejarah panjang aktivismenya,” kata Rizki kepada wartawan, Rabu, 6 Agustus 2025.
Ia menegaskan bahwa pengalaman Adian sebagai orator, penggerak, dan politisi vokal tak hanya mencerminkan kapasitas personal, tapi juga membawa nilai-nilai perjuangan rakyat ke ruang-ruang pengambilan keputusan strategis partai.
Rizki berharap Adian tetap menjaga komitmennya terhadap rakyat, tanpa terjebak dalam sekat-sekat politik partai.
“Saya percaya bahwa idealisme tak punya warna. Sekalipun kami berbeda bendera politik, saya tahu Adian tetap membawa semangat yang sama sejak Reformasi: membela yang lemah, memperjuangkan keadilan,” ujarnya.
Dengan semangat khas aktivis yang telah teruji zaman, Rizki mengutip kalimat yang dikenal sebagai mantera perjuangan:
“Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk. Dan Adian sudah terbentuk. Kini perjuangannya berpindah dari jalanan ke pusat strategi partai. Semoga amanah ini menjadi ladang baru untuk terus menyuarakan nurani rakyat,” tutup Rizki.
Penunjukan Adian sebagai Wasekjen menandai babak baru perjuangan politiknya—dari aksi di jalan hingga pengaruh di jantung partai. Sebuah perjalanan panjang yang tetap berpijak pada semangat yang sama: reformasi belum selesai, dan perjuangan harus terus menyala.














