JurnalPatroliNews – Jakarta – Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Bambang Soesatyo, mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas politik, keamanan, dan kepastian hukum di tengah gejolak geopolitik dunia yang kian rumit. Mulai dari ketegangan di Laut China Selatan hingga dampak perang Rusia–Ukraina pada harga minyak, semua itu memberi tekanan besar pada perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Jika iklim usaha terganggu dan stabilitas nasional goyah, kepercayaan investor yang kita bangun selama 20 tahun terakhir bisa hilang,” tegas Bamsoet, Jumat (8/8/2025).
Pernyataan itu ia sampaikan saat mendampingi pembekalan Retret KADIN 2025 bersama Wakil Menko Polhukam Letjen TNI (Purn) Lodewijk Freidrich Paulus di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Turut hadir Ketua Umum KADIN Anindya Bakrie, jajaran pengurus pusat, serta ketua KADIN provinsi dan asosiasi.
Pasar Modal Guncang, Rupiah Tertekan
Kekhawatiran Bamsoet bukan tanpa dasar. Data Bursa Efek Indonesia mencatat, dana asing keluar sebesar Rp28,6 triliun pada kuartal I 2025. IHSG sempat anjlok 7,2% dalam satu hari perdagangan pada Maret, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh Rp16.700 pada April—level tertinggi sejak pandemi.
Pelemahan rupiah berdampak langsung pada biaya impor bahan baku industri dan memicu tekanan inflasi. Menurut Bamsoet, dunia usaha butuh keyakinan yang lahir dari komitmen negara menjaga kepastian hukum, stabilitas politik, keamanan, dan transparansi kebijakan.
Tantangan dari Siber hingga Energi
Bamsoet menilai pemerintah harus siap menghadapi ancaman siber, kelangkaan energi, dan konflik lintas batas. Ketahanan ekonomi nasional, kata dia, tidak bisa dilepaskan dari kekuatan pertahanan negara—mulai dari militer, energi, pangan, hingga keamanan digital.
Selain mendorong proyek strategis nasional, Bamsoet menekankan pentingnya memperluas pasar ekspor, memperkuat logistik, dan mengamankan pasokan energi. Ia juga mengingatkan pelaku usaha agar meningkatkan manajemen risiko.
“Mitigasi risiko bukan sekadar formalitas atau sertifikasi ISO. Ini fondasi keberlanjutan bisnis, karena ancaman bisa datang kapan saja,” tandasnya.














