JurnalPatroliNews – Jakarta – Mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, dilaporkan meninggalkan negaranya menggunakan jet pribadi pada Kamis malam, 4 September 2025, hanya beberapa hari sebelum sidang vonis pengadilan yang dijadwalkan 9 September.
Kepergian Thaksin, yang kini berusia 76 tahun, memicu spekulasi luas bahwa ia mungkin tidak akan menghadiri sidang tersebut. Langkahnya juga terjadi bertepatan dengan dinamika politik di Bangkok, di mana parlemen tengah bersiap memilih perdana menteri baru sekaligus membentuk pemerintahan.
Partai Pheu Thai, kendaraan politik yang pernah ia dirikan, diperkirakan bakal kehilangan pijakan setelah anjloknya dukungan publik menyusul kasus etik yang menjerat Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra putri Thaksin hingga pencopotannya pekan lalu.
Jet pribadi Bombardier Global 7500 dengan nomor registrasi T7GTS yang ditumpangi Thaksin lepas landas dari Bandara Don Mueang sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Rencananya pesawat menuju Singapura untuk pemeriksaan kesehatan, namun gagal mendarat karena bandara sudah tutup. Setelah berputar di udara, pesawat dialihkan ke Dubai.
Dalam pernyataannya di platform X, Thaksin menjelaskan bahwa ia menuju Dubai untuk bertemu tim dokternya. “Karena tidak memungkinkan mendarat di Singapura, saya meminta pilot langsung menuju Dubai. Di sana ada dokter ortopedi dan paru yang selama ini menangani saya,” tulisnya, dikutip dari CNN.
Polisi Thailand memastikan Thaksin sempat diperiksa oleh pihak imigrasi sebelum terbang, tetapi menegaskan tidak ada larangan hukum yang bisa menghalangi keberangkatannya.
Thaksin sebelumnya pernah menghabiskan 15 tahun di luar negeri setelah digulingkan melalui kudeta militer tahun 2006. Ia divonis bersalah dalam kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, meski ia selalu menolak tuduhan tersebut dengan menyebutnya bermuatan politik.
Pada 2023, ia pulang ke Thailand dan dijatuhi hukuman 8 tahun penjara. Raja Maha Vajiralongkorn kemudian memberikan pengampunan dengan memotong hukuman menjadi 1 tahun. Thaksin bahkan dibebaskan bersyarat setelah enam bulan, meski nyatanya ia tidak pernah masuk sel penjara melainkan dirawat di ruang khusus Rumah Sakit Polisi Bangkok—situasi yang menuai kritik publik terkait perlakuan istimewa.
Kini, setelah putrinya kehilangan jabatan perdana menteri, masa depan politik keluarga Shinawatra kian tidak menentu.
Di sisi lain, parlemen Thailand hari ini, Jumat 5 September 2025, akan menggelar pemilihan perdana menteri baru. Kandidat Pheu Thai, Chaikasem Nitisiri, diperkirakan kalah bersaing dengan Anutin Charnvirakul dari Partai Bhumjaithai, yang mendapat dukungan penuh dari Partai Rakyat—kelanjutan dari Partai Move Forward yang sebelumnya dibubarkan.














