JurnalPatroliNews – Jakarta – Lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Beijing untuk menghadiri peringatan 80 tahun kemenangan rakyat Tiongkok atas fasisme Jepang memunculkan banyak perbincangan. Alih-alih hanya dianggap seremoni, kunjungan ini justru dinilai sejumlah pengamat sebagai langkah strategis yang memperkuat posisi diplomasi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.
Acara besar itu dihadiri sekitar 25 pemimpin dunia dan mendapat sorotan luas dari media internasional. Momen ketika para kepala negara berdiri bersama di atas mimbar menjadi titik perhatian. Sosok-sosok seperti Xi Jinping, Vladimir Putin, Kim Jong Un, Jomart Tokayev, serta Prabowo Subianto terlihat berjejer di barisan depan.
Namun, framing media di tiap negara berbeda. Media Tiongkok menonjolkan empat figur utama: Xi Jinping, Putin, Kim Jong Un, dan Prabowo. Sebaliknya, media Jepang, termasuk Yomiuri Shimbun, justru hanya menampilkan foto “trio blok timur” tanpa menyertakan Prabowo. Hal ini memicu spekulasi di media sosial, di mana sebagian netizen menilai Indonesia sengaja dikesampingkan karena dianggap bukan kekuatan besar.
Yomiuri Shimbun melalui edisi editorialnya menekankan bahwa fokus mereka adalah pada Xi, Putin, dan Kim sebagai representasi “musuh historis” Jepang di Perang Dunia II. Artikel berjudul “China-Russia-N. Korea Cooperation: 3 Regimes Cannot Become a Pillar of World Order. Japan and Europe Must Keep Emerging Nations Close” menyebutkan bahwa kolaborasi ketiga negara tersebut dipandang sebagai tantangan langsung terhadap tatanan global pasca-Perang Dunia II yang didominasi kubu demokratis.
Editorial itu juga menilai, sambutan hangat Beijing terhadap Putin dan Kim menjadi simbol perlawanan Tiongkok terhadap nilai-nilai diplomasi damai yang selama ini mereka klaim. Karena alasan tersebut, Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa memilih absen dalam acara tersebut.
Sejumlah analis menegaskan, tidak ditampilkannya Prabowo oleh media Jepang bukan berarti Indonesia dipandang tak relevan, melainkan karena media tersebut sedang membangun narasi sejarah yang spesifik. Namun demikian, kehadiran Prabowo tetap dianggap sebagai momen penting yang menegaskan peran Indonesia dalam percaturan politik internasional saat ini.














