Harga di Belanda Naik Gila-Gilaan, Penduduk Rela ke Jerman Demi Diskon

JurnalPatroliNews – Rotterdam – Harga barang di Belanda yang terus melambung membuat banyak warganya memilih menyeberang ke Jerman demi berbelanja lebih hemat. Fenomena “tur belanja lintas negara” ini semakin marak dalam beberapa bulan terakhir, terutama di kota-kota dekat perbatasan.

Salah satu warga Rotterdam, Marleen Naipal (53), rela mengeluarkan US$ 45 atau sekitar Rp747.000 untuk tiket bus ke Bocholt, Jerman, demi membeli kebutuhan rumah tangga dengan harga jauh lebih murah.

“Kami bepergian dari Rotterdam ke Bocholt karena semuanya jauh lebih murah di sini daripada di Belanda. Beberapa produk harganya kurang dari setengah harga di Belanda, jadi perjalanan ini benar-benar sepadan,” ujarnya pada awal Oktober 2025.

Naipal bukan satu-satunya. Banyak warga dari Rotterdam, Amsterdam, hingga Utrecht kini ikut tur belanja ke Jerman. Bahkan sebagian memilih menginap di Luksemburg untuk mendapatkan alkohol dan rokok dengan harga lebih rendah.

“Saya sangat sedih karena harga-harga di Belanda sangat tinggi. Saya tidak mengerti mengapa semua barang di Jerman setengah harga dibanding di Belanda,” keluh sopir bus Ali El-Abassi (45) yang rutin mengantar rombongan pembeli lintas negara.

Laporan lembaga perlindungan konsumen Belanda, Consumentenbond, mengungkapkan hasil survei terhadap lebih dari 130 produk populer. Hasilnya, harga di Jerman rata-rata 15% lebih murah dibanding Belanda. Untuk produk merek premium, selisih harga bahkan bisa mencapai 25% lebih rendah.

Produk-produk yang paling mencolok perbedaannya antara lain minuman ringan, barang rumah tangga, kosmetik, dan produk perawatan pribadi.

Perbedaan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) disebut menjadi faktor utama. Di Belanda, tarif PPN barang non-makanan mencapai 21%, sedangkan di Jerman hanya 19%. Untuk bahan makanan, Belanda mengenakan 9%, sementara Jerman lebih ringan di 7%.

Selain pajak, pembatasan pasokan teritorial yang sedang diselidiki oleh Autoriteit Consument & Markt (ACM) juga dianggap turut menyebabkan harga-harga di Belanda sulit turun.

Naipal menambahkan, mahalnya biaya hidup kini menjadi salah satu isu utama menjelang pemilu Belanda. Banyak warga menganggap krisis biaya hidup sama pentingnya dengan isu perumahan dan imigrasi.

Ilmuwan politik dari Universiteit Utrecht, Marcel Lubbers, menyebut bahwa kondisi ini akan berpengaruh signifikan terhadap preferensi pemilih. “Banyak orang sedang berjuang, dan mereka akan mengaitkan penderitaan ekonomi ini dengan janji-janji partai di pemilu mendatang,” ujarnya.