JurnalPatroliNews – Jakarta – Perdagangan saham Amerika Serikat pada Jumat, 7 November 2025, ditutup dengan arah bervariasi. Kondisi ini terjadi di tengah gejolak yang dipicu kekhawatiran ekonomi serta kebuntuan politik terkait penutupan pemerintahan federal terpanjang dalam sejarah negara itu.
Mengutip laporan Reuters, indeks Dow Jones mencatat penguatan tipis sebesar 0,16 persen ke posisi 46.987. Indeks S&P 500 pun naik 0,13 persen menjadi 6.728, sementara Nasdaq terkoreksi 0,21 persen ke level 23.004. Dari total 446 perusahaan S&P 500 yang telah merilis kinerja kuartal III, sebanyak 83 persen berhasil membukukan laba di atas prediksi. Secara tahunan, pertumbuhan laba S&P diperkirakan mencapai 16,8 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Saham Tesla tergelincir 3,7 persen setelah para pemegang saham menyetujui skema kompensasi bagi CEO Elon Musk senilai 1 triliun dolar AS—paket gaji terbesar sepanjang sejarah korporasi. Di sisi lain, saham Microchip Technology turun 5,2 persen akibat proyeksi penjualan yang mengecewakan, sedangkan saham Expedia melonjak 17,6 persen berkat pertumbuhan sektor perjalanan.
Terry Sandven dari US Bank Wealth Management menilai bahwa berakhirnya penutupan pemerintahan dapat menjadi sentimen positif bagi pasar. Ia menyebut, “Kepastian terkait penutupan pemerintah sangat penting untuk memulihkan kepercayaan, terutama ketika valuasi saham berada pada level tinggi.”
Namun, survei awal Universitas Michigan menunjukkan penurunan tajam dalam sentimen konsumen AS—merosot ke titik terendah dalam lebih dari tiga tahun. Temuan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran publik atas situasi ekonomi di tengah ketidakpastian politik.
Penutupan pemerintahan juga menghambat publikasi data ekonomi resmi, sehingga menyulitkan langkah Federal Reserve menyeimbangkan sasaran stabilitas harga dan pasar tenaga kerja. Analis Carson Group, Ryan Detrick, menyebut kondisi investor saat ini “seperti terbang tanpa panduan” karena minimnya data akibat penutupan lembaga pemerintah.













