Kapal Terbakar di Laut Banda, 11 Awak KM Maluku Makmur 03 Belum Ditemukan

JurnalPatroliNews – Jakarta – Sebanyak 11 orang dilaporkan hilang dalam insiden kebakaran kapal KM Maluku Makmur 03 di Perairan Laut Banda, Maluku. Tim SAR gabungan kembali melanjutkan pencarian pada Sabtu (22/11/2025) setelah operasi sempat dihentikan sehari sebelumnya akibat cuaca buruk.

Kepala Basarnas Ambon, Muhammad Arafah, menyebutkan bahwa titik lokasi kejadian berada pada koordinat 4 derajat 33 menit 52,20 detik lintang selatan dan 128 derajat 48 menit 33,55 detik bujur timur.

Lokasi tersebut sekitar 75 nautical mile dari arah tenggara dan menjadi pusat pencarian sejak kapal itu dilaporkan terbakar pada Kamis (20/11/2025) sore.

Perairan Laut Banda dikenal rawan cuaca ekstrem, sehingga proses pencarian dilakukan dengan kewaspadaan tinggi. Arafah mengungkapkan bahwa Tim Rescue KN SAR Bharata langsung diterjunkan menuju titik koordinat untuk menyisir area perairan yang diduga menjadi lokasi terakhir kapal tersebut.

Operasi SAR melibatkan pos SAR Banda, pos Angkatan Laut, serta Polair. Namun hingga Jumat (21/11/2025) sore, keberadaan kapal maupun para awaknya belum juga ditemukan.

Kondisi laut yang memburuk memaksa Basarnas menghentikan sementara operasi pencarian dan kembali melanjutkannya pada Sabtu pagi.

KM Maluku Makmur 03 diketahui berangkat dari Pelabuhan Tulehu pada 8 November 2025 pukul 02.00 WIT menuju spot mancing di Laut Banda. Kapal membawa 11 orang, masing-masing nakhoda Yakob Arnyanyi (60) dan 10 anak buah kapal: Kien Julson Sabandar (52), Misran Sumenda (51), Finsen Rahayaan (27), Deki Tatael (59), Hengki Tatael (21), Agung Mamentiwalo (29), Oksin Tatael (29), Otnjel Kolotja (51), Jefry Langelo (62), dan Melvin Rolando Hitalessy (26).

Basarnas menegaskan bahwa koordinasi intensif terus dilakukan dengan berbagai pihak untuk memperluas area pencarian. Setiap informasi baru langsung ditindaklanjuti guna mempercepat proses penyelamatan. “Fokus kami sekarang menyelamatkan seluruh awak kapal,” tegas Arafah.

Insiden ini kembali menyoroti pentingnya aspek keselamatan pelayaran, terutama bagi kapal-kapal nelayan yang beroperasi di wilayah rawan cuaca ekstrem. Hingga kini, publik menanti perkembangan terbaru dari operasi SAR yang masih terus berlangsung.