JurnalPatroliNews – Jakarta – Banjir dahsyat yang melanda Asia Tenggara selama beberapa hari terakhir menewaskan lebih dari 300 orang di Indonesia, Thailand, dan Malaysia, menurut laporan resmi pada Jumat (28/11/2025).
Hujan musiman yang diperparah oleh sistem badai tropis menyebabkan kerusakan meluas, memutus akses transportasi, dan membuat ribuan warga terpaksa bertahan di atap rumah menunggu pertolongan.
Di Indonesia, pihak berwenang masih berjuang menjangkau kawasan terdampak paling parah di Pulau Sumatra. Di Sumatera Barat, kondisi terus berubah cepat seiring meluapnya air dan longsor pada sejumlah titik.
Misniati (53), warga setempat, menceritakan detik-detik kepanikan saat banjir mendadak naik. Ketika pulang salat Subuh, ia melihat jalanan sudah digenangi air.
“Saya lihat jalanan banjir. Saya coba lari ke rumah kasih tahu suami, dan air sudah sampai pinggang,” ujarnya kepada AFP. Saat tiba di rumah, air bahkan mencapai dada. “Kami enggak tidur semalaman, cuma mantau air,” katanya.
BNPB melaporkan sedikitnya 174 orang tewas akibat banjir dan longsor di Sumatra, sementara sekitar 80 warga lainnya masih hilang. Kepala BNPB Suharyanto mengatakan jumlah korban diperkirakan bertambah karena beberapa daerah masih terisolasi. “Ada lokasi yang belum bisa dijangkau dan terindikasi ada korban,” ujarnya.
Juru bicara Polda Sumatera Utara Ferry Walintukan menegaskan bahwa evakuasi dan distribusi bantuan menjadi prioritas utama. Namun, akses darat dan komunikasi ke sejumlah wilayah masih terputus. “Semoga cuaca membaik supaya helikopter bisa masuk ke lokasi paling parah,” harapnya.
Di Aceh, air yang mulai surut menyisakan mobil-mobil terbenam lumpur hingga setinggi jendela. Seorang jurnalis AFP melihat truk kayu terbengkalai tanpa jejak pengemudinya.
Sementara itu di Thailand selatan, penduduk di Hat Yai bertahan di atap rumah sambil menunggu evakuasi menggunakan perahu.
Pemerintah Thailand mencatat setidaknya 145 korban jiwa, sebagian besar di Provinsi Songkhla. Rumah Sakit Songklanagarind bahkan kewalahan menampung jenazah hingga harus mendatangkan truk berpendingin.
“Kamar mayat sudah penuh, jadi kami butuh tambahan,” kata Charn, petugas kamar jenazah.
Gelombang kritik publik muncul karena penanganan banjir dinilai lambat, membuat dua pejabat setempat diskors sementara. Kamban Wongpanya (67), warga Hat Yai, mengungkapkan betapa cepatnya banjir naik. “Air naik sampai plafon lantai dua,” ujarnya setelah diselamatkan menggunakan perahu.
Pemilik toko sembako, Madam Yong, Rachane Remsringam, mengaku tokonya dijarah saat banjir. “Gula, susu, banyak barang dapur hilang. Kerugian ratusan ribu dolar,” keluhnya.
Di Malaysia, dua orang tewas akibat banjir yang merendam sebagian wilayah Perlis setelah hujan ekstrem. Musim hujan yang biasanya terjadi antara Juni–September kali ini diperburuk oleh badai tropis yang meningkatkan intensitas hujan dan angin.
Para ahli menyebut banjir besar kali ini sebagai salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan iklim disebut sebagai pemicu utama fenomena cuaca ekstrem ini.
Renard Siew, penasihat perubahan iklim di Malaysia, mengatakan kejadian ekstrem akan semakin sering terjadi. “Ilmuwan sudah lama memperingatkan bahwa peristiwa ekstrem bakal makin parah seiring suhu meningkat. Dan itu yang kita lihat sekarang,” katanya.














