JurnalPatroliNews – Jakarta – Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa pengerahan lebih dari 100 kapal militernya di kawasan Asia Timur merupakan langkah yang sah dan berada dalam koridor kebijakan pertahanan nasional yang bersifat defensif.
Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara Kemenlu China, Lin Jian, pada Jumat (5/12/2025), sebagai tanggapan atas meningkatnya kekhawatiran regional mengenai aktivitas militer Beijing.
Dalam beberapa pekan terakhir, China dilaporkan meningkatkan kehadiran kapal angkatan laut dan penjaga pantainya di jalur perairan strategis, mulai dari bagian selatan Laut Kuning hingga wilayah sengketa di Laut China Selatan. Langkah ini terjadi di tengah memanasnya hubungan Beijing dan Tokyo, terutama setelah berbagai pernyataan terkait isu Taiwan.
“Pihak-pihak terkait tidak perlu bereaksi berlebihan atau membuat tuduhan tak berdasar,” kata Lin menanggapi sejumlah negara yang menilai pengerahan besar-besaran tersebut berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.
Lin juga mengulas kembali hasil pertemuan antara Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Sergei Shoigu di Moskow pada 2 Desember 2025.
Dalam pertemuan tersebut, Beijing dan Moskow sepakat memperkuat koordinasi guna mencegah tindakan yang mereka sebut sebagai provokasi kelompok sayap kanan Jepang, yang dinilai mengancam keamanan regional.
“China dan Rusia dengan tegas menolak upaya kebangkitan kembali fasisme dan militerisme Jepang,” tegasnya.
Selain memperkuat kerja sama strategis, kedua negara kembali menegaskan tanggung jawab mereka sebagai kekuatan besar sekaligus anggota tetap Dewan Keamanan PBB untuk menjaga perdamaian global dan melindungi kebenaran sejarah.
Peningkatan pengerahan kapal China disebut-sebut terjadi setelah Beijing memanggil Duta Besar Jepang Kenji Kanasugi pada 14 November 2025.
Pemanggilan itu dilakukan sebagai protes terhadap pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang menyatakan bahwa Jepang dapat merespons secara militer jika Taiwan diserang China.
Beijing juga dikabarkan tidak senang dengan rencana Taiwan yang akan menambah anggaran pertahanannya hingga US$ 40 miliar atau sekitar Rp 667 triliun.
Di saat bersamaan, sejumlah kapal perang China dilaporkan melakukan simulasi serangan terhadap kapal asing sebagai bentuk persiapan menghadapi kemungkinan konflik.
Situasi ini dinilai mempertegas eskalasi ketegangan di Asia Timur yang semakin dinamis, terutama antara China, Jepang, dan Taiwan, dengan Rusia berada di garis yang sama mendukung Beijing.














