JurnalPatroliNews – Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan pentingnya pemanfaatan big data berbasis satelit dan radar untuk mempercepat identifikasi desa-desa yang terisolir akibat banjir bandang dan longsor di Sumatera.
Teknologi observasi dari angkasa dinilai menjadi elemen kunci agar pemerintah dapat merespons dengan sigap, terutama di wilayah yang tidak dapat dijangkau melalui jalur darat maupun udara.
Peneliti Ahli Utama Klimatologi BRIN, Prof Erma Yulihastin, menuturkan bahwa resolusi citra satelit yang tinggi sangat dibutuhkan untuk memastikan lokasi terdampak dapat dipetakan secara akurat.
“Kita membutuhkan data satelit dengan resolusi yang sangat tinggi agar benar-benar terlihat mana saja daerah yang masih terisolasi dan belum tersentuh bantuan,” ujar Erma dalam Beritasatu Utama, dikutip Minggu (7/12/2025).
Ia menjelaskan, tim gugus tugas BRIN telah memanfaatkan citra dari berbagai satelit, baik milik Indonesia maupun hasil kerja sama dengan negara sahabat.
Pendekatan ini digunakan untuk menyisir area yang luput dari pantauan pengamatan darat dan udara. Dengan big data, pola kerusakan, akses yang terputus, hingga potensi risiko lanjutan dapat dianalisis lebih cepat.
Namun, di tengah urgensi tersebut, Erma menyoroti hambatan besar yang bertahun-tahun belum teratasi, yakni keterbatasan anggaran riset dan pengembangan teknologi kebencanaan.
“Anggaran yang diarahkan ke sana masih sangat-sangat kecil, sehingga pengembangan teknologi termasuk mikrosatelit menjadi tersendat,” tegasnya.
BRIN menilai, meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim menuntut negara untuk berinvestasi lebih serius pada teknologi deteksi dan pemantauan bencana.
Infrastruktur big data, satelit resolusi tinggi, radar cuaca, hingga sistem komunikasi darurat perlu ditingkatkan secara signifikan agar proses penjangkauan korban dan pemetaan daerah terisolir dapat dilakukan dalam hitungan jam, bukan hari.
Menurut analisis BRIN, tanpa dukungan pendanaan yang memadai, kemampuan Indonesia dalam merespons bencana akan terus berada dalam kondisi rapuh.
Peningkatan teknologi kebencanaan bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan strategis demi keselamatan masyarakat.














