JurnalPatroliNews – Jakarta – Peta kekuatan global sedang mengalami pergeseran signifikan. Setelah menunjukkan taringnya dalam perang tarif melawan Amerika Serikat (AS), China kini semakin percaya diri memperluas pengaruhnya dan mengisi ruang kosong yang perlahan ditinggalkan Washington.
Konfrontasi mengenai tarif, rare earth, dan pembatasan ekspor antara dua raksasa ekonomi dunia itu berakhir dengan gencatan senjata sementara ketika Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping bertemu di Korea Selatan pada Oktober 2025.
Banyak analis kebijakan luar negeri menilai momentum China telah tiba. Hubungan AS-China memasuki fase baru ketika Beijing menunjukkan ketegasan dalam merespons ancaman Washington, memaksa AS mengambil langkah lebih pragmatis.
“Hubungan AS-China telah mengalami perubahan struktural. Pihak AS mengakui kekuatan China. Washington telah belajar untuk lebih berhati-hati dan lebih menghormati Beijing,” ujar Wang Yong, Direktur Pusat Studi Amerika di Universitas Peking.
Kebangkitan konsep G-2 kembali mencuat. Trump mengejutkan Xi dengan membahas kembali model kerja sama dua kekuatan besar untuk mengatur urusan dunia, sebuah konsep yang pernah diajukan Xi kepada Obama pada 2013 namun ditolak.
Menurut Wang Dong dari Universitas Peking, dukungan Trump terhadap G-2 menunjukkan pengakuan atas status baru China. Ia menyebut ideologi MAGA sebagai sikap baru yang meninggalkan internasionalisme liberal lama.
Sinyal pragmatisme Trump makin jelas ketika ia cenderung lebih fokus pada isu perdagangan dibandingkan Taiwan. Setelah panggilan telepon dengan Xi pada 24 November, Trump bahkan tidak menyinggung Taiwan dan hanya menulis bahwa hubungan AS-China sangat kuat.
Sikap lunak itu memicu reaksi keras China terhadap Jepang. Ketika PM Jepang Sanae Takaichi menyatakan bahwa potensi serangan Taiwan dapat memicu respons militer Tokyo, Beijing langsung menjatuhkan sanksi ekonomi dan diplomatik.
Ketegangan mereda setelah Takaichi menegaskan kembali komitmen Jepang pada Deklarasi Bersama 1972 yang mengakui kedaulatan China atas Taiwan.
Di sisi lain, kebijakan keras perdagangan AS justru memberi keuntungan global bagi China. Wu Xinbo, Kepala Institut Studi Internasional Universitas Fudan, menilai dominasi teknologi kini mulai bergeser ke China, terutama di sektor energi bersih.
Kemajuan China terlihat dari keberhasilan DeepSeek, prototipe AI yang lahir di tengah blokade chip AS. Kebijakan kendaraan listrik juga turut mengurangi polusi secara signifikan.
“Dulu Beijing dikenal sebagai kota dengan polusi berat. Sekarang saya justru mencium bau knalpot diesel di kota-kota Amerika dan Eropa, yang sudah tidak tercium lagi di China,” kata Ma Jun, Direktur Institut Urusan Publik dan Lingkungan di Beijing.
Namun, prediksi keunggulan China tidak serta-merta disetujui semua ahli. Wang Huiyao dari Center for China and Globalization menilai pragmatisme Trump justru memungkinkan AS mempertahankan dominasinya dalam beberapa dekade ke depan.













