Menuju 2026, Indonesia Bidik Kemandirian Pasokan Solar

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah menargetkan Indonesia terbebas dari ketergantungan impor solar mulai tahun 2026. Proyeksi tersebut disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) seiring dengan semakin matangnya pembangunan infrastruktur energi nasional.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa salah satu penopang utama target tersebut adalah beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur. Ketika kilang ini telah berjalan optimal, kapasitas produksi solar dalam negeri diyakini cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional secara penuh.

Selain mengandalkan peningkatan kemampuan kilang, pemerintah juga menyiapkan kebijakan campuran bahan bakar nabati melalui program Biodiesel B50. Sinergi antara tambahan produksi dari RDMP Balikpapan dan penerapan mandatori B50 diperkirakan tidak hanya menghentikan impor solar, tetapi bahkan membuka peluang kelebihan pasokan.

Bahlil mengungkapkan bahwa kombinasi kedua kebijakan tersebut berpotensi menciptakan surplus solar. Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak menutup kemungkinan untuk menjadi negara pengekspor bahan bakar di masa depan. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta dan dikutip pada Senin, 29 Desember 2025.

Meski demikian, Bahlil menekankan bahwa pencapaian target nol impor tetap mempertimbangkan kesiapan teknis dan operasional di lapangan. Pemerintah tidak ingin memaksakan kebijakan yang justru berisiko mengganggu ketahanan energi nasional.

Ia menegaskan bahwa secara kebijakan, pemerintah menargetkan tidak ada lagi impor solar pada 2026. Namun dalam masa peralihan, masih dimungkinkan adanya penyesuaian apabila produksi dalam negeri belum sepenuhnya siap memenuhi kebutuhan pada awal tahun.

Menurut Bahlil, jika kesiapan penuh baru tercapai pada beberapa bulan awal 2026, maka impor dalam jumlah terbatas bisa saja dilakukan sebagai langkah antisipasi agar pasokan energi tetap aman.

Di sisi lain, pemerintah juga menaruh perhatian pada peningkatan kualitas bahan bakar yang beredar di masyarakat. Upaya perbaikan mutu solar, kata Bahlil, akan terus dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari transformasi sektor energi.

Strategi penguatan pasokan dan peningkatan kualitas energi ini sebelumnya telah dilaporkan secara resmi kepada Presiden Prabowo Subianto. Langkah tersebut menjadi bagian dari agenda besar pemerintah dalam memperkokoh kedaulatan dan ketahanan energi nasional.