Temuan Fosil di Maroko Buka Tabir Fase Gelap Sejarah Evolusi Manusia

JurnalPatroliNews – Jakarta –  Penemuan fosil manusia purba di wilayah Casablanca, Maroko, memberikan petunjuk baru tentang salah satu fase paling samar dalam perjalanan evolusi manusia. Fosil berusia sekitar 773 ribu tahun itu ditemukan di Gua Grotte à Hominidés, kawasan Thomas Quarry, dan langsung menarik perhatian komunitas ilmiah dunia.

Temuan tersebut dinilai istimewa karena menjadi bukti fisik pertama keberadaan hominin dari periode waktu yang selama ini nyaris kosong dalam catatan fosil Afrika. Masa ini berada di antara era satu juta tahun lalu dan sekitar 500 ribu tahun lalu, rentang waktu yang sebelumnya minim bukti arkeologis.

Sisa-sisa yang berhasil diidentifikasi meliputi tiga bagian rahang—salah satunya milik individu anak-anak—serta gigi, ruas tulang belakang, dan tulang paha. Menurut paleoantropolog Jean-Jacques Hublin dari Collège de France dan Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, temuan ini berperan penting dalam menjembatani kekosongan data evolusi manusia di Afrika.

“Hingga satu juta tahun lalu, Afrika kaya akan fosil hominin. Namun setelah itu, data seakan meloncat langsung ke sekitar 500 ribu tahun lalu. Fosil ini berada tepat di tengah kekosongan tersebut,” ungkap Hublin pada Kamis, 8 Januari 2026.

Hasil pemindaian menggunakan teknologi CT scan mengungkapkan bahwa fosil tersebut memiliki karakter anatomi campuran. Struktur rahangnya masih bersifat primitif, ditandai dengan ketiadaan dagu seperti pada manusia modern. Namun, bentuk gigi dan ciri dentalnya menunjukkan kemiripan dengan Homo sapiens maupun Neanderthal.

Penentuan usia fosil dilakukan melalui metode paleomagnetisme, yakni analisis perubahan arah medan magnet bumi yang terekam dalam lapisan batuan. Fosil ini berada tepat pada fase transisi Matuyama–Brunhes, sebuah peristiwa pembalikan kutub magnet bumi yang terjadi sekitar 773 ribu tahun lalu.

Ahli geologi Universitas Milan, Serena Perini, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut memungkinkan penempatan fosil dalam kerangka waktu yang sangat akurat.

Para peneliti meyakini fosil Maroko ini berpotensi merepresentasikan populasi nenek moyang bersama Homo sapiens, Neanderthal, dan Denisovan. Namun, identitas pastinya masih menjadi perdebatan.

Antonio Rosas dari National Museum of Natural Sciences di Madrid menyebut sosok leluhur ini sebagai figur evolusioner yang sulit didefinisikan. Menurutnya, menentukan fosil yang tepat untuk posisi simpul evolusi ini sangat krusial guna memahami arah perkembangan manusia selanjutnya.

“Perdebatan mengenai fosil mana yang mewakili titik penting evolusi ini masih berlangsung, dan kejelasan soal leluhur tersebut akan menentukan pemahaman kita tentang perubahan evolusi berikutnya,” ujarnya.

Meski belum memperoleh penamaan resmi, fosil ini dinilai memiliki kemiripan dengan Homo erectus, sekaligus menunjukkan kedekatan dengan garis keturunan manusia modern.

Carrie Mongle, asisten profesor antropologi di Universitas Stony Brook, menilai temuan ini kembali menegaskan peran sentral Afrika dalam kisah lahirnya manusia modern.

“Setiap fosil hominin dari periode kritis seperti ini memberi perspektif baru yang sangat berharga untuk menelusuri evolusi manusia,” tutupnya.