JurnalPatroliNews – Jakarta – Hujan lebat yang mengguyur wilayah Maluku Utara dalam beberapa hari terakhir memicu rangkaian bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah. Peristiwa tersebut mencakup satu kejadian banjir bandang, empat longsor, serta belasan banjir yang menerjang tiga wilayah administratif, yakni Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Utara, dan Kota Tidore Kepulauan.
Sejak bencana mulai terjadi, Kepolisian Republik Indonesia bergerak cepat melakukan berbagai langkah tanggap darurat, mulai dari evakuasi warga hingga penyaluran bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
Berdasarkan laporan kepolisian hingga Rabu, 7 Januari 2026, musibah ini mengakibatkan tiga korban jiwa. Dua di antaranya berasal dari Kabupaten Halmahera Barat, sementara satu korban lainnya tercatat di Kabupaten Halmahera Utara.
Selain korban meninggal, ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. Jumlah pengungsi di Halmahera Barat diperkirakan mencapai 5.000 orang, sedangkan di Halmahera Utara tercatat sekitar 1.311 jiwa. Sementara itu, kerusakan infrastruktur dan aset warga menimbulkan kerugian material yang ditaksir mencapai Rp4,27 miliar dan masih dalam proses pendataan.
Di lapangan, personel Polri fokus pada upaya penyelamatan warga di titik-titik rawan, penanganan korban luka, operasi pencarian dan pertolongan, serta pembukaan jalur transportasi yang terhambat akibat genangan banjir dan longsoran tanah.
Kepala Kepolisian Daerah Maluku Utara, Irjen Pol Waris Agono, menegaskan bahwa kecepatan respons dan koordinasi lintas sektor menjadi faktor krusial dalam situasi darurat.
“Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Selain penanganan korban, kami memastikan para pengungsi memperoleh bantuan dan kebutuhan dasar secara layak,” ujar Waris dalam pernyataan tertulis, Kamis, 8 Januari 2026.
Untuk memperkuat operasi kemanusiaan, Polri mengerahkan personel dan peralatan secara masif. Di Halmahera Barat, Polres setempat menurunkan puluhan personel dengan dukungan kendaraan operasional jenis truk dan double cabin. Sementara di Halmahera Utara, ratusan aparat dikerahkan guna menjangkau wilayah terdampak hingga ke pelosok desa.
Dukungan tambahan juga datang dari Polres Ternate dan Polresta Tidore Kepulauan, masing-masing dengan pengiriman personel Samapta dan armada angkut. Unsur SAR diperkuat oleh Sat Brimob Polda Maluku Utara yang membawa peralatan penyelamatan lengkap, serta Ditpolairud yang mengoperasikan kapal patroli untuk pemantauan dan evakuasi di wilayah perairan.
Dalam penanganan pengungsi, Polda Maluku Utara terus berkoordinasi dengan Forkopimda dan instansi terkait guna memastikan posko pengungsian berfungsi optimal. Ketersediaan pangan, air bersih, layanan kesehatan, serta aspek keamanan menjadi perhatian utama, sembari aparat tetap siaga mengantisipasi potensi bencana lanjutan.














