JurnalPatroliNews – Jakarta – Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno membuka rangkaian kegiatan MPR Goes to Campus pertama di tahun 2026 dengan mengunjungi Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Kegiatan ini menjadi kampus ke-40 yang disambangi dalam program dialog kebangsaan tersebut sejak ia menjabat sebagai pimpinan MPR pada November 2024.
Kunjungan ke kampus Muhammadiyah Sumbar dilakukan setelah sehari sebelumnya Eddy menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga terdampak banjir di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Agenda tersebut sekaligus menjadi bagian dari lawatan kerjanya di wilayah tersebut.
Dalam sesi dialog bersama civitas akademika, Eddy menegaskan bahwa perubahan iklim kini telah memasuki fase darurat dan dampaknya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kondisi yang kita hadapi bukan lagi sekadar perubahan iklim, melainkan sudah masuk kategori krisis. Jika tidak segera dicegah, situasi ini bisa berkembang menjadi bencana iklim yang jauh lebih besar,” ujar Eddy dalam keterangan tertulis, Jumat, 9 Januari 2026.
Wakil Ketua Umum PAN itu juga menyoroti bahwa sepanjang tahun 2025, dampak krisis iklim terbukti paling berat dirasakan oleh kelompok masyarakat miskin dan rentan secara ekonomi.
Ia menyebut berbagai peristiwa seperti banjir rob, curah hujan ekstrem yang berlangsung berkepanjangan, hingga rangkaian bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menunjukkan bahwa rakyat kecil menjadi pihak yang paling terdampak.
“Bencana-bencana tersebut memperlihatkan dengan jelas bahwa kelompok ekonomi lemah menanggung beban paling besar akibat krisis iklim,” katanya.
Atas dasar itu, Eddy mendorong pemerintah agar tahun 2026 dijadikan sebagai momentum penguatan mitigasi krisis iklim secara serius dan terstruktur.
Menurutnya, tanpa kebijakan mitigasi yang jelas dan berkelanjutan, risiko kerusakan lingkungan serta dampak sosial akibat krisis iklim akan semakin sulit dikendalikan.
“Jika mitigasi tidak menjadi agenda utama, dampak krisis iklim berpotensi terus memburuk,” pungkasnya.














