Dolar AS Menguat, Pasar Cermati Isyarat Trump soal Kursi Ketua The Fed

JurnalPatroliNews – New York — Nilai tukar Dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan tren penguatan setelah Indeks Dolar (DXY) ditutup di level 99,41 pada perdagangan Jumat, 16 Januari 2026. Angka tersebut mendekati posisi tertinggi dalam enam pekan terakhir, didorong oleh kombinasi manuver politik Presiden Donald Trump dan rilis data ekonomi Amerika Serikat yang solid.

Sentimen utama datang dari pernyataan Trump yang memberi sinyal akan mempertahankan penasihat ekonominya, Kevin Hassett, di posisinya saat ini. Pernyataan itu langsung meredakan spekulasi pasar yang sebelumnya memprediksi Hassett bakal ditunjuk sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya.

Bagi pelaku pasar, kabar tersebut dianggap sebagai angin segar bagi penguatan Dolar. Hassett selama ini dipersepsikan sebagai kandidat yang “dovish” atau cenderung mendukung suku bunga rendah. Dengan peluangnya memimpin The Fed yang kian menipis, pasar mulai melirik nama lain seperti Kevin Warsh, yang dinilai lebih independen dan tegas dalam menjaga stabilitas kebijakan moneter.

Selain faktor politik, kinerja ekonomi domestik AS turut menopang penguatan Dolar. Data tenaga kerja yang membaik membuat ekspektasi penurunan suku bunga bergeser ke pertengahan tahun, tepatnya sekitar Juni. Di saat yang sama, produksi pabrik AS secara tak terduga meningkat pada Desember, memperkuat keyakinan bahwa ekonomi Negeri Paman Sam masih berada dalam jalur ekspansi.

Kombinasi faktor tersebut membuat Dolar semakin perkasa terhadap mata uang utama dunia. Euro terkoreksi tipis ke kisaran 1,1594 per Dolar AS, sementara Yen Jepang bergerak hati-hati di sekitar level 158 per Dolar.

Dengan dinamika politik dan ekonomi yang terus berkembang, pasar global kini semakin fokus memantau arah kebijakan moneter AS serta siapa sosok yang akan menempati kursi panas Ketua The Fed.