IHSG Kembali Tersungkur 1,55 Persen, Rupiah Melemah ke Rp18.066 per Dolar AS


JurnalPatroliNews – JAKARTA – Tekanan di pasar keuangan domestik masih berlanjut pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami pelemahan tajam dan memperpanjang tren penurunan yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut.

Pada awal perdagangan, IHSG sempat dibuka menguat tipis 0,11 persen ke level 5.846,49. Namun, sentimen negatif yang membayangi pasar membuat penguatan tersebut tidak bertahan lama. Kurang dari 20 menit setelah pembukaan, indeks berbalik arah dan merosot 1,55 persen ke posisi 5.749.

Sepanjang sesi pagi, IHSG bergerak di rentang level tertinggi 5.860 dan terendah 5.747, mencerminkan tingginya tekanan jual yang terjadi di pasar saham domestik.

Pelemahan indeks juga tercermin dari mayoritas saham yang berada di zona merah. Sebanyak 431 saham tercatat mengalami penurunan, sementara hanya 179 saham yang menguat dan 120 saham lainnya bergerak stagnan.

Meski pasar berada dalam tekanan, aktivitas transaksi tetap berlangsung cukup tinggi. Nilai perdagangan tercatat mencapai Rp5 triliun dengan volume transaksi sebanyak 6,3 miliar saham yang berpindah tangan dalam 517 ribu kali transaksi.

Penurunan IHSG turut berdampak pada penyusutan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilai kapitalisasi pasar tercatat turun menjadi Rp10.159 triliun seiring melemahnya harga saham di berbagai sektor.

Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham. Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga masih berada dalam tren pelemahan.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat melemah 17 poin atau 0,09 persen ke level Rp18.066 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap aset keuangan domestik masih cukup kuat di tengah dinamika pasar global dan sentimen yang berkembang di kalangan investor.

Pelemahan serentak yang terjadi pada IHSG dan rupiah menjadi sinyal bahwa pelaku pasar masih bersikap hati-hati terhadap berbagai faktor risiko yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan nasional.

Komentar