JurnalPatroliNews – Jakarta – Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) mengeluarkan bantahan keras terhadap tuduhan yang dilontarkan oleh Gubernur Hadramout, Salem Al-Khanbashi. Tuduhan tersebut berkaitan dengan klaim penemuan gudang senjata dan penjara rahasia di Bandara Riyan, Mukalla, yang disebut-sebut sebagai milik UEA.
Abu Dhabi menyebut pernyataan tersebut sebagai rekayasa tak berdasar yang bertujuan mencoreng reputasi militer mereka di kancah internasional.
Dalam pernyataan resminya, UEA menegaskan bahwa seluruh personel militer mereka telah menyelesaikan penarikan penuh dari Yaman pada 2 Januari 2026.
Penarikan tersebut mencakup pemindahan seluruh aset dan peralatan tempur sesuai prosedur yang berlaku. Oleh karena itu, UEA menganggap klaim mengenai kehadiran logistik maupun teknis di wilayah Yaman saat ini adalah upaya menyesatkan opini publik.
Mengenai fasilitas bawah tanah yang disebut sebagai penjara rahasia, Kemenhan UEA memberikan klarifikasi bahwa ruangan tersebut hanyalah akomodasi militer, ruang operasi, dan tempat perlindungan berbenteng. Fasilitas semacam itu diklaim sebagai fitur lazim pada instalasi militer dan bandara di seluruh dunia.
UEA justru mempertanyakan motif sebenarnya dari pihak-pihak yang memfasilitasi kunjungan media internasional untuk mempromosikan narasi tersebut.
Konferensi pers yang memicu ketegangan ini diketahui diatur oleh pemerintah Arab Saudi, yang menerbangkan sejumlah jurnalis internasional dari Riyadh menuju Mukalla.
Hubungan antara dua kekuatan besar Teluk, Arab Saudi dan UEA, memang dilaporkan sedang berada dalam titik terendah akibat perselisihan mengenai geopolitik di Yaman, kuota produksi minyak, hingga persaingan ekonomi di sektor teknologi kecerdasan buatan (AI).
Perselisihan ini kini mulai merambah ke ruang publik dengan adanya aksi saling serang antar pakar dari kedua negara di media sosial.
Situasi ini dinilai tidak biasa, mengingat negara-negara monarki Teluk umumnya merahasiakan perbedaan pendapat demi menjaga persatuan kawasan. Eskalasi “perang kata-kata” ini menandakan pergeseran dinamika kekuatan di Timur Tengah yang kian kompetitif antara Riyadh dan Abu Dhabi.














