JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan yang menghubungkan melemahnya nilai tukar Rupiah dengan wacana pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Ia menilai, tekanan terhadap mata uang nasional sudah berlangsung lebih dulu, jauh sebelum nama tersebut mencuat ke ruang publik.
Menurut Purbaya, fluktuasi Rupiah tidak bisa disederhanakan pada satu isu politik atau personal. Ia menegaskan bahwa faktor lain yang lebih luas turut memengaruhi pergerakan nilai tukar.
“Pelemahan Rupiah terjadi sebelum pencalonan itu muncul, jadi tidak tepat kalau dikaitkan dengan hal tersebut. Ada variabel lain yang berpengaruh,” ujar Purbaya di Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa selain tekanan global, sentimen dari dalam negeri juga ikut memberi dampak pada Rupiah yang sempat mendekati level Rp17.000 per dolar AS. Ia menyebut persepsi pasar terhadap kondisi fiskal serta proses seleksi Deputi Gubernur BI sebagai salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar.
Menanggapi pernyataan tersebut, Purbaya menekankan pentingnya kekompakan kebijakan antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan seluruh jajaran pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi, termasuk nilai tukar.
Ia juga menyatakan keyakinannya terhadap langkah-langkah yang dilakukan bank sentral dalam meredam volatilitas Rupiah dan menjaga kepercayaan pasar.
“Fundamental ekonomi nasional terus diperkuat dan arahnya positif. Jadi tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Purbaya memastikan bahwa pelemahan Rupiah tidak akan berkembang menjadi krisis ekonomi. Ia menilai kondisi dasar perekonomian Indonesia masih solid, dengan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang berjalan sejalan.
“Tidak ada alasan untuk khawatir Rupiah akan memicu krisis. Fundamental kita kuat, kebijakan sudah selaras, pertumbuhan ekonomi akan meningkat, investor kembali masuk, Rupiah menguat, dan pasar keuangan ikut membaik,” pungkasnya.














