JurnalPatroliNews – Jakarta -Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, memberikan pernyataan tegas terkait gelombang aksi protes yang melanda negaranya sejak akhir tahun 2025.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/1/2026), Boroujerdi mengeklaim bahwa aspirasi damai warga Iran telah “dibajak” oleh kepentingan asing, terutama Amerika Serikat dan Israel, untuk menciptakan instabilitas nasional.
Menurut Boroujerdi, krisis ini bertransformasi dari kekhawatiran ekonomi para pedagang di Grand Bazaar menjadi aksi terorisme bersenjata yang terorganisir. Ia menyebut bahwa badan intelijen CIA dan Mossad memberikan instruksi langsung untuk menciptakan korban jiwa sebanyak mungkin guna menjatuhkan citra hak asasi manusia Iran di mata internasional.
Pemerintah Iran mencatat dampak kerusakan yang masif selama kerusuhan, termasuk kerusakan pada ratusan fasilitas publik seperti ambulans, masjid, dan bank.
Boroujerdi menegaskan bahwa langkah tegas yang diambil pemerintah sejak 10 Januari, termasuk pembatasan internet, terbukti efektif memutus rantai koordinasi jaringan asing dan mengembalikan situasi ke kondisi terkendali.
“Dua per tiga dari total korban jiwa dianggap mati syahid karena mereka adalah aparat negara dan warga sipil tak berdosa yang menjadi sasaran serangan acak kelompok bersenjata,” ungkap Boroujerdi. Berdasarkan jajak pendapat domestik, ia mengeklaim mayoritas warga Iran kini menolak kekerasan dan menginginkan stabilitas nasional kembali pulih.












