JurnalPatroliNews – Jakarta – Situasi keamanan di perbatasan Lebanon dan Israel kembali memanas setelah terjadi insiden penembakan oleh tank militer Israel di dekat area patroli gabungan tentara Lebanon dan Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL).
Peristiwa ini berlangsung pada Jumat sore di kawasan Wadi Al-Asafir, sebelah selatan kota Khiam.
Menurut laporan saksi mata, proyektil tersebut ditembakkan dari posisi militer Israel yang baru saja didirikan di wilayah Hamams, saat pasukan gabungan tengah menjalankan operasi rutin di sepanjang Garis Biru.
Sumber militer Lebanon menegaskan bahwa insiden ini menambah panjang daftar pelanggaran militer Israel terhadap kedaulatan Lebanon dan personel keamanan internasional.
Sebelumnya, UNIFIL telah berulang kali mengeluarkan pernyataan kutukan atas tindakan serupa yang dinilai membahayakan keselamatan pasukan perdamaian di selatan Sungai Litani.
Selain serangan tank, militer Israel juga dilaporkan mengintensifkan serangan udara menggunakan drone di wilayah Baalbek, Lebanon timur, yang menyasar sebuah kendaraan pribadi dalam upaya pembunuhan yang berakhir gagal.
Ketegangan militer ini terjadi bersamaan dengan skeptisisme pihak Israel terhadap upaya pemerintah Lebanon dalam melakukan perlucutan senjata di wilayah selatan.
Pejabat Israel menganggap langkah Beirut hanyalah strategi untuk mengulur waktu, sementara otoritas Lebanon bersikeras bahwa proses penyitaan senjata berjalan sesuai dengan strategi nasional yang didukung komunitas internasional.
Perselisihan ini memicu eskalasi pemboman di wilayah permukiman yang memaksa puluhan keluarga Lebanon mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Di sisi lain, Presiden Lebanon Joseph Aoun kini menghadapi tantangan ganda berupa tekanan militer luar negeri dan kritik tajam dari kelompok aktivis domestik yang bersekutu dengan Hezbollah.
Meski mendapat tuduhan pengkhianatan melalui kampanye media sosial, Aoun tetap mendapat dukungan dari Ketua Parlemen Nabih Berri.
Pemerintah Lebanon kini menyoroti minimnya tekanan internasional terhadap Israel sebagai penyebab utama terus berulangnya pelanggaran gencatan senjata di kawasan perbatasan tersebut.














