BMKG Tegaskan Modifikasi Cuaca Bersifat Pencegahan, Bukan Jawaban Tunggal Atasi Banjir

JurnalPatroliNews – Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menekankan bahwa pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tidak dimaksudkan sebagai jalan keluar utama untuk mengatasi banjir di kawasan Jabodetabek, melainkan sebagai upaya pengurangan risiko akibat cuaca ekstrem.

Penjelasan tersebut disampaikan Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, dalam wawancara khusus pada Minggu malam, 25 Januari 2026. Ia menegaskan bahwa OMC bersifat preventif dan tidak ditujukan untuk menghentikan hujan sepenuhnya.

“OMC bukan solusi instan untuk menghilangkan hujan. Ini adalah bagian dari strategi mitigasi agar dampak cuaca ekstrem bisa ditekan,” ujar Tri.

Ia menjelaskan, konsep dasar OMC adalah mengelola intensitas curah hujan dengan memicu hujan lebih awal di area tertentu, seperti di wilayah laut, sebelum awan hujan bergerak menuju kawasan padat penduduk di Jabodetabek.

“Dengan menjatuhkan awan potensial di luar daratan, intensitas hujan di wilayah permukiman dapat dikendalikan. Tujuannya agar hujan lebat tidak turun bersamaan dan sistem drainase serta sungai utama punya waktu untuk menyalurkan air,” paparnya.

Menurut Tri, OMC juga menjadi bagian penting dalam manajemen risiko bencana, khususnya untuk menekan potensi bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir dan longsor, yang dipicu hujan berintensitas tinggi.

Berdasarkan pengalaman penerapan di berbagai daerah, metode modifikasi cuaca ini dinilai mampu menurunkan intensitas curah hujan rata-rata sekitar 30 hingga 50 persen.

“Penurunan intensitas ini secara langsung mengurangi tingkat keparahan hujan,” katanya.

Ia menambahkan, dalam sejumlah kasus, hujan yang sebelumnya diprakirakan masuk kategori lebat hingga ekstrem, pada realisasinya hanya terjadi pada tingkat sedang sampai lebat.

“Hal ini menunjukkan OMC efektif sebagai langkah mitigasi risiko, meskipun tidak bisa dijadikan satu-satunya solusi untuk persoalan banjir,” tutup Tri.