JurnalPatroliNews – Jakarta – Harga minyak global masih bertahan di level atas pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026, melanjutkan reli yang terjadi pada sesi sebelumnya dengan kenaikan lebih dari dua persen. Sentimen utama pasar tetap dipengaruhi meningkatnya eskalasi hubungan Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi dunia.
Meski jalur ekspor utama Kazakhstan melalui pipa Caspian Pipeline Consortium telah kembali beroperasi normal, faktor geopolitik dinilai jauh lebih dominan dalam membentuk arah pergerakan harga minyak saat ini.
Mengacu laporan Reuters, minyak mentah Brent tercatat naik tipis 12 sen atau sekitar 0,18 persen, sementara minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat 14 sen atau 0,23 persen menjadi 61,21 dolar AS per barel.
Sepanjang pekan lalu, kedua acuan harga tersebut membukukan kenaikan sekitar 2,7 persen dan ditutup pada posisi tertinggi sejak pertengahan Januari.
Situasi pasar semakin tegang setelah pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana pengerahan kelompok kapal induk beserta aset militernya ke kawasan Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menyebut adanya “armada” yang tengah bergerak menuju Iran, meski menegaskan harapannya agar kekuatan tersebut tidak perlu digunakan. Ia juga melontarkan peringatan keras kepada Teheran terkait isu demonstrasi domestik dan potensi pengaktifan kembali program nuklir.
Pernyataan tersebut langsung dibalas oleh pejabat tinggi Iran yang menyatakan bahwa setiap serangan terhadap negaranya akan dipandang sebagai deklarasi perang terbuka.
Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menilai retorika keras dari Washington kembali menyalakan kekhawatiran pasar terkait keamanan pasokan minyak global. Kondisi ini, menurutnya, menambah premi risiko pada harga minyak dan membuat investor cenderung mengambil sikap lebih waspada.
Sementara itu, dari sisi pasokan, Kazakhstan memastikan terminal ekspor minyak di kawasan Laut Hitam telah beroperasi penuh sejak Minggu, setelah proses perawatan di salah satu dermaga selesai dilakukan. Namun pemulihan tersebut belum cukup meredam tekanan geopolitik yang membayangi pasar energi global.














