JurnalPatroliNews – Jakarta – Pergerakan harga minyak dunia masih diliputi volatilitas dan berada dekat level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada Jumat, 30 Januari 2026. Situasi ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar.
Harga minyak Brent tercatat melemah tipis sekitar 21 sen ke posisi 70,50 dolar AS per barel, setelah pada perdagangan sebelumnya melonjak lebih dari 3 persen dan ditutup pada level tertinggi sejak akhir Juli tahun lalu. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga terkoreksi 39 sen ke level 65,03 dolar AS per barel, meski sehari sebelumnya mencatat kenaikan serupa dan menembus rekor penutupan tertinggi sejak September.
Secara kinerja bulanan, pasar minyak berpeluang membukukan lonjakan paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang Januari, harga Brent diperkirakan melesat lebih dari 16 persen, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Januari 2022. WTI juga menunjukkan tren serupa dengan potensi penguatan di atas 14 persen, yang merupakan lonjakan tertajam sejak Juli 2023.
Penguatan harga tersebut tidak lepas dari meningkatnya kekhawatiran pasar atas langkah Amerika Serikat yang memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah. Rencana Washington untuk mengambil tindakan militer terhadap Iran dinilai berpotensi mengganggu pasokan minyak global, mengingat Iran merupakan salah satu produsen utama di bawah naungan OPEC.
Pada pertengahan pekan, Presiden AS Donald Trump kembali mendesak Iran agar bersedia melanjutkan perundingan mengenai program nuklirnya. Trump juga melontarkan ancaman akan melakukan serangan militer jika Teheran menolak, yang kemudian dibalas Iran dengan pernyataan keras mengenai kemungkinan serangan balasan.
Analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai situasi tersebut telah mendorong munculnya premi risiko tambahan pada harga minyak. Pelaku pasar, menurutnya, mulai memperhitungkan potensi terganggunya ekspor minyak Iran maupun jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz.
Di sisi lain, pemerintahan Trump dilaporkan menggelar pertemuan terpisah dengan pejabat tinggi pertahanan dan intelijen dari Israel serta Arab Saudi di Washington guna membahas isu Iran. Meski demikian, pihak Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden AS masih mempertimbangkan berbagai skenario dan belum menetapkan keputusan akhir terkait opsi militer.
Tekanan terhadap pasokan minyak global juga datang dari faktor non-geopolitik. Laporan JPMorgan menyebutkan gangguan produksi di Kazakhstan, Rusia, dan Venezuela telah memangkas pasokan gabungan sekitar 1,5 juta barel per hari sepanjang Januari. Selain itu, cuaca ekstrem di Amerika Serikat diperkirakan turut mengurangi produksi minyak dan kondensat hingga sekitar 340.000 barel per hari pada bulan ini.














