JurnalPatroliNews – Jakarta – Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza kembali memburuk setelah serangan militer Israel menghantam sejumlah titik pada Sabtu (31/1/2026).
Insiden ini dilaporkan menewaskan sedikitnya 12 warga Palestina, menjadikannya salah satu serangan paling mematikan sejak kesepakatan gencatan senjata dimulai pada Oktober tahun lalu.
Serangan tersebut menyasar area padat penduduk di Gaza utara dan kamp-kamp pengungsian di wilayah selatan, yang memicu kepanikan luar biasa di tengah masyarakat yang sedang berupaya memulihkan diri dari konflik panjang.
Laporan dari Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza menyebutkan bahwa serangan terhadap sebuah apartemen menewaskan lima orang dari satu keluarga, termasuk tiga anak-anak serta nenek dan bibi mereka.
Sementara itu, di Khan Younis, serangan udara menghantam kamp tenda pengungsi yang mengakibatkan kebakaran besar.
Pihak Rumah Sakit Nasser mengonfirmasi tujuh orang tewas dalam kejadian tersebut, yang terdiri dari seorang ayah beserta anak dan cucu-cucunya. Kehadiran korban dari kalangan perempuan dan anak-anak mempertegas tingginya dampak sipil dalam eskalasi terbaru ini.
Tragedi ini terjadi pada saat yang sangat krusial, yakni tepat sehari sebelum rencana pembukaan kembali gerbang penyeberangan Rafah di perbatasan Gaza-Mesir secara terbatas.
Pembukaan jalur tersebut merupakan bagian dari fase kedua kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, yang dipandang sebagai harapan bagi evakuasi medis warga Palestina. Namun, serangan mendadak ini menimbulkan keraguan besar atas efektivitas kesepakatan damai yang selama ini diupayakan oleh pihak internasional.
Data dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan bahwa meskipun status gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober, tercatat lebih dari 500 warga Palestina telah kehilangan nyawa akibat berbagai serangan yang masih berlangsung.
Hingga saat ini, pihak militer Israel belum memberikan pernyataan resmi mengenai target maupun alasan di balik serangan yang menyasar fasilitas sipil tersebut. Kelanjutan kekerasan ini kian mempersulit upaya rekonstruksi dan penyaluran bantuan kemanusiaan bagi jutaan warga Gaza yang masih bergantung pada bantuan luar negeri.














