JurnalPatroliNews – Jakarta – Kerajaan Norwegia kini tengah menghadapi guncangan hebat setelah dokumen terbaru terkait kasus kejahatan seksual Jeffrey Epstein dirilis oleh otoritas Amerika Serikat pada akhir Januari 2026.
Nama Putri Mahkota Mette-Marit muncul lebih dari seribu kali dalam jutaan berkas tersebut, mengungkap korespondensi intensif antara dirinya dengan sang predator seksual pada periode 2011 hingga 2014.
Pengungkapan ini memaksa pihak istana untuk mengeluarkan pernyataan resmi guna meredam spekulasi publik yang kian liar.
Dokumen yang dipublikasikan menunjukkan komunikasi bernada personal melalui email, di mana Mette-Marit sempat memuji Epstein sebagai sosok yang menawan.
Bahkan, terdapat percakapan mengenai saran wallpaper tidak pantas untuk anaknya serta diskusi mengenai perbandingan kualitas perempuan Skandinavia dan Paris sebagai istri.
Lebih mengejutkan lagi, data tersebut mengonfirmasi bahwa sang Putri Mahkota pernah menginap selama empat hari di kediaman Epstein di Florida pada tahun 2013, lima tahun setelah Epstein mengaku bersalah dalam kasus prostitusi anak di bawah umur.
Menanggapi rilis dokumen tersebut, Mette-Marit menyampaikan permohonan maaf terbuka dan mengakui bahwa keterlibatannya dengan Epstein adalah sebuah kesalahan penilaian yang buruk.
Ia menyatakan penyesalan mendalam dan menyebut hubungan tersebut sebagai hal yang sangat memalukan.
Meskipun sempat melakukan penelusuran mandiri melalui internet dan menemukan informasi yang tidak baik mengenai latar belakang Epstein, sang putri tetap melanjutkan kontak hingga akhirnya memutuskan hubungan pada tahun 2014.
Momentum terbukanya skandal ini dinilai sangat merugikan posisi kerajaan karena bertepatan dengan jadwal sidang putra tertua Mette-Marit, Marius Borg Høiby, yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (3/2/2026).
Marius menghadapi puluhan dakwaan berat, termasuk kasus pemerkosaan terhadap empat perempuan serta penyalahgunaan narkotika.
Gabungan antara skandal hubungan masa lalu sang ibu dengan kasus kriminal sang anak kini menempatkan monarki Norwegia dalam krisis kepercayaan publik yang sangat serius di awal tahun ini.













