Netanyahu Tiba di Amerika, Agendakan Pembahasan Iran dengan Trump

JurnalPatroliNews – Maryland — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah tiba di Amerika Serikat setelah mendarat di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, pada Selasa sore waktu setempat, 10 Februari 2026. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari agenda diplomatik penting Israel dengan pemerintahan Washington.

Mengacu laporan Times of Israel pada Rabu, 11 Februari 2026, kantor Perdana Menteri Israel menyampaikan bahwa Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump pada Rabu. Pertemuan tersebut akan difokuskan pada pembahasan proses perundingan terkait Iran.

Dalam keterangan resminya, kantor Netanyahu menegaskan bahwa Israel memandang setiap kesepakatan dengan Teheran harus mencakup pembatasan kemampuan rudal balistik serta penghentian dukungan Iran terhadap jaringan sekutunya di kawasan.

“Perdana Menteri berpandangan bahwa negosiasi harus mencakup isu rudal balistik dan penghentian sokongan Iran terhadap poros regionalnya,” demikian pernyataan yang disampaikan kantor Netanyahu.

Sementara itu, Presiden Trump dalam pernyataan terpisah menyebut Netanyahu juga memiliki keinginan untuk mencapai kesepakatan yang konstruktif dengan Iran. Trump menilai dinamika pembicaraan nuklir terbaru dengan Teheran menunjukkan sinyal yang lebih menjanjikan dibandingkan perundingan sebelumnya.

Menurut Trump, kondisi saat ini sangat berbeda dengan proses negosiasi terdahulu yang gagal dan berujung pada serangan militer AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025, di penghujung konflik singkat selama 12 hari antara Israel dan Iran.

“Waktu itu mereka tidak yakin saya benar-benar akan bertindak,” ujar Trump, merujuk pada serangan tersebut. Ia menambahkan bahwa Iran kala itu terlalu percaya diri.

Trump optimistis pendekatan kali ini dapat menghasilkan kesepakatan yang signifikan. “Negosiasi sekarang berjalan dengan cara yang sangat berbeda. Kita punya peluang untuk mencapai kesepakatan besar dengan Iran,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Netanyahu tidak menolak jalur diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. “Dia juga menginginkan kesepakatan, dan tentu saja kesepakatan yang kuat dan menguntungkan,” pungkas Trump.