JurnalPatroliNews – Jakarta – Militer Amerika Serikat dilaporkan tengah mematangkan rencana operasi militer jangka panjang terhadap Iran. Operasi tersebut berpotensi berlangsung selama beberapa pekan apabila Presiden Donald Trump memberikan perintah langsung untuk melakukan serangan.
Indikasi kesiapan itu terlihat dari pergerakan aset militer AS. Citra satelit terbaru menunjukkan kapal induk USS Gerald R. Ford berada di kawasan Karibia. Selain itu, Pentagon disebut berencana mengirimkan tambahan kapal induk ke kawasan Timur Tengah, lengkap dengan jet tempur, kapal perusak berpeluru kendali, serta ribuan personel militer.
Penguatan militer ini terjadi tak lama setelah pertemuan antara diplomat AS dan Iran di Oman, yang bertujuan membuka kembali jalur negosiasi terkait program nuklir Teheran. Namun, upaya diplomasi tersebut dinilai belum menunjukkan hasil signifikan.
Dalam kunjungannya ke pangkalan militer di North Carolina, Trump mengakui bahwa pembicaraan dengan Iran berlangsung alot. Ia menyebut mencapai kesepakatan bukan perkara mudah dan menegaskan bahwa tekanan terkadang diperlukan untuk memecahkan kebuntuan, sebagaimana dikutip dari Reuters pada Sabtu, 14 Februari 2026.
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menyatakan bahwa presiden memiliki seluruh opsi terbuka dalam menyikapi Iran. Ia menegaskan bahwa setiap keputusan akan diambil setelah mempertimbangkan berbagai masukan demi menjaga kepentingan keamanan nasional. Pihak Pentagon sendiri memilih tidak memberikan komentar.
Berbeda dengan operasi militer terbatas yang pernah dilakukan sebelumnya, rencana kali ini disebut jauh lebih rumit. Jika benar-benar dijalankan, kampanye militer AS tidak hanya akan menyasar fasilitas nuklir, tetapi juga infrastruktur negara serta instalasi keamanan Iran.
Di sisi lain, Iran diketahui memiliki kemampuan rudal yang signifikan. Garda Revolusi Iran telah memperingatkan akan melakukan serangan balasan ke pangkalan AS jika wilayah mereka diserang. Saat ini, Amerika Serikat memiliki pangkalan militer di berbagai negara Timur Tengah, termasuk Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Turki.
Pada insiden sebelumnya, Iran sempat melancarkan serangan balasan terbatas ke pangkalan AS di Qatar. Trump pun kembali melontarkan peringatan keras, menyatakan bahwa Iran dapat menjadi sasaran pengeboman jika tidak ada kemajuan dalam isu nuklir dan rudal balistik. Ia bahkan menyebut opsi non-diplomatik sebagai langkah yang akan berdampak sangat traumatis.
Di tengah meningkatnya tensi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini bertemu Trump di Washington. Netanyahu menegaskan bahwa setiap kesepakatan dengan Iran harus mencakup poin-poin krusial demi menjamin keamanan Israel.
Sementara itu, Iran menyatakan kesediaannya membahas pembatasan program nuklir sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi, namun menolak mengaitkan negosiasi tersebut dengan isu pengembangan rudal balistik.














