Mendagri: Bencana Aceh-Sumatera Terparah dalam Hampir 10 Tahun

JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut rangkaian bencana alam yang melanda Aceh dan sejumlah provinsi di Sumatera sebagai yang terparah dalam kurun hampir satu dekade terakhir.

Hal itu disampaikan Tito dalam rapat koordinasi bersama DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (18/2/2026). Menurutnya, skala bencana kali ini jauh melampaui pola kejadian tahunan yang biasa ditangani pemerintah daerah.

“Di daerah-daerah yang umum ini hampir tidak pernah ada sekitar 10 tahun perjalanan seperti ini,” ujar Tito, merujuk pada kombinasi longsor, banjir besar, serta terputusnya akses vital secara serentak di berbagai wilayah.

Data pemerintah mencatat dampak paling berat terjadi di Aceh dengan 562 korban meninggal dunia dan 29 orang dinyatakan hilang.

Di Sumatera Utara, jumlah korban meninggal dunia tercatat 376 orang dengan 40 orang hilang. Sementara di Sumatera Barat, korban meninggal dunia mencapai 267 orang dan 70 orang dilaporkan hilang.

Tito menjelaskan, pola bencana di ketiga provinsi relatif serupa, yakni curah hujan ekstrem yang memicu longsor di wilayah pegunungan dan banjir besar di daerah hilir. Dampaknya, sistem distribusi logistik lumpuh total pada fase awal tanggap darurat.

“Kami belajar dari kasus ini agar stok logistik selalu tersedia untuk tiga bulan,” katanya.

Pemerintah, lanjut Tito, akan melakukan evaluasi nasional guna memperkuat sistem kesiapsiagaan bencana, termasuk kewajiban penyediaan stok logistik daerah untuk kebutuhan hingga tiga bulan ke depan.

Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan langkah relokasi serta penataan ulang administrasi desa bagi wilayah yang hilang atau terdampak parah akibat bencana. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan dan memastikan pelayanan publik tetap berjalan bagi masyarakat terdampak.