JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden RI Prabowo Subianto dinilai berpeluang mengikuti jejak dua pendahulunya, Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo, jika memutuskan kembali maju pada pemilihan presiden periode kedua.
Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, menilai peluang Prabowo untuk kembali terpilih cukup besar, terutama bila menerapkan strategi elektoral yang serupa dengan SBY dan Jokowi saat mempertahankan kekuasaan.
Menurut Efriza, pada periode kedua, baik SBY maupun Jokowi memilih calon wakil presiden dari kalangan non-politisi dengan latar belakang teknokrat.
“Patut dicermati di periode kedua, melihat SBY dan Jokowi, maka yang dicari untuk menemani sebagai pasangan calon petahana adalah non-politisi,” ujar Efriza, Rabu (18/2/2026).
Ia mencontohkan, SBY pada Pilpres 2009 menggandeng Boediono, mantan Gubernur Bank Indonesia, sebagai pendampingnya. Sementara Jokowi pada Pilpres 2019 memilih Ma’ruf Amin, Rais Aam PBNU sekaligus tokoh ekonomi syariah.
Meski keduanya tidak lagi berusia muda saat maju sebagai calon wakil presiden, figur tersebut dinilai memiliki daya tarik kuat di mata publik berkat latar belakang dan kompetensinya, khususnya di bidang ekonomi.
“Meski berkategori usang, tapi masih punya nilai. Karena latar belakang sosoknya yang paham ekonomi,” tutur Efriza.
Sebagai petahana, Prabowo disebut memiliki peluang besar untuk kembali memenangkan kontestasi, selama figur pendamping yang dipilih tidak memunculkan persepsi “matahari kembar” yang berpotensi mengganggu soliditas pemerintahan.
Efriza menambahkan, dalam politik elektoral, kedekatan personal dengan Prabowo memang menjadi faktor penting. Namun, hal itu tetap harus diimbangi dengan elektabilitas, dukungan partai politik, serta tingkat penerimaan publik yang luas.
“Dalam politik elektoral, kedekatan dengan Prabowo Subianto penting, namun tetap harus ditopang oleh elektabilitas, akseptabilitas berupa dukungan partai, dan penerimaan publik yang luas,” pungkasnya.














