Mitos Keamanan Teluk Runtuh, Pangkalan AS Disebut Jadi Magnet Rudal Iran

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pakar pertahanan Marsma (Purn) Agung Sasongkojati menilai peta kekuatan di kawasan Teluk telah berubah secara permanen. Ia menyebut konsep payung keamanan Amerika Serikat yang selama ini dipromosikan justru berbalik menjadi titik lemah strategis.

“Kita tidak lagi menyaksikan perang proksi atau zona shadow war, melainkan benturan langsung antarnegara dengan intensitas yang melampaui Operasi Desert Storm 1991,” ujar Agung dalam pernyataan yang dikutip Selasa (3/2/2026).

Menurut Agung, mitos supremasi udara konvensional yang selama ini diagungkan Pentagon dan Israeli Air Force runtuh bukan karena kalah dalam duel udara, melainkan akibat kerentanan pangkalan militer.

Ia mencontohkan serangan terhadap Ali Al Salem Air Base dan Al Udeid Air Base yang dinilai menunjukkan pangkalan AS kini menjadi sasaran empuk rudal hipersonik Iran.

“Mitos keamanan Teluk runtuh. Negara-negara Arab sekarang sadar bahwa pangkalan AS bukan pelindung, melainkan magnet bagi rudal Iran,” tegasnya.

Agung menekankan, keunggulan udara tidak akan berarti apabila landasan pacu dan sistem radar lebih dulu dilumpuhkan. Ia menilai narasi air superiority konvensional telah terpukul oleh kombinasi serangan drone dan rudal jarak jauh.

Ia juga menyoroti insiden jatuhnya tiga jet tempur F-15 yang disebut dipicu kegagalan sistem identifikasi kawan-lawan (IFF). Menurutnya, peristiwa itu menjadi pukulan moral serius bagi kekuatan udara AS di kawasan Teluk.

“Ini bukan sekadar kesalahan komunikasi, tetapi kegagalan sistemik identifikasi akibat electronic poisoning pihak ketiga. Pesawat kawan terbaca sebagai rudal musuh di layar operator radar yang sedang panik,” ujarnya.

Di sisi lain, Agung melihat manuver diplomatik Washington sebagai sinyal adanya tekanan serius. Ia menyinggung laporan bahwa Presiden Donald Trump meminta Italia berperan sebagai mediator konflik dengan Iran.

Menurut Agung, langkah tersebut mengindikasikan kekhawatiran Washington terhadap keberlanjutan operasi militernya. Ia menilai keterlibatan AS dalam konflik dengan Iran telah menguras stok rudal Tomahawk dan sistem pertahanan udara Patriot missile system, yang sejatinya dipersiapkan untuk skenario konflik lain.

“Pentagon kini dalam posisi dilematis. Melanjutkan perang di Timur Tengah ibarat membiarkan diri telanjang di depan China,” pungkasnya.