JurnalPatroliNews – Jakarta – Keputusan Indonesia untuk bergabung dalam Board of Peace (BoP) yang diprakarsai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menuai sorotan dari sejumlah kalangan. Salah satu kritik datang dari Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta, Din Syamsuddin.
Din menilai pembentukan Board of Peace berpotensi menjadi skenario terselubung yang pada akhirnya menguntungkan Israel. Menurutnya, langkah Indonesia ikut serta dalam forum tersebut berisiko menempatkan posisi politik dan moral Indonesia pada situasi yang kurang tepat.
“Board of Peace (BoP) merupakan skenario kamuflase yang menguntungkan Israel. Sayangnya Presiden Indonesia terperdaya dengan skenario itu dan tanpa sadar serta di luar nalar berujar Israel harus dijamin keamanannya, padahal Israel yang melakukan genosida atas rakyat Palestina,” kata Din kepada wartawan, Rabu (4/3/2026).
Ketua Global Peace Forum itu juga mengingatkan umat Islam di seluruh dunia agar tidak mudah terpancing oleh manuver politik global. Ia menekankan pentingnya memperkuat soliditas dan solidaritas umat, sekaligus tidak terjebak dalam isu yang mempertentangkan kelompok Sunni dan Syiah.
Mantan Ketua Umum Muhammadiyah tersebut turut mendorong Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) agar lebih aktif dan responsif dalam membela kepentingan dunia Islam di tengah meningkatnya eskalasi konflik kawasan.
Terkait peran Indonesia, Din menilai pemerintah belum berada pada posisi yang cukup kuat untuk tampil sebagai penengah. Ia berpendapat Indonesia masih minim pengaruh politik (political leverage) dan telanjur dipersepsikan sebagai sekutu Amerika Serikat serta sahabat Israel.
“Kalau mau menjadi penengah Indonesia harus menekan Amerika Serikat dan Israel untuk menghentikan agresi dan ambisi jahatnya itu,” ujarnya.
Lebih jauh, Din mempertanyakan urgensi keikutsertaan Indonesia dalam BoP apabila tidak disertai keberanian bersikap tegas kepada pihak penggagas forum tersebut.
“Apa gunanya bergabung dalam Board of Peace bikinan Donald Trump kalau tidak berani menegurnya. Kalau ingin ke Iran adalah pikiran dan langkah salah kaprah dan akan dituduh membawa misi Israel dan Amerika Serikat. Bukankah keduanya yang memulai serangan dan mengganggu kedaulatan negara lain?” pungkasnya.













