JurnalPatroliNews – Jakarta – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dinilai perlu direspons Indonesia dengan langkah antisipatif yang matang, khususnya untuk meredam potensi guncangan ekonomi.
Pengamat politik Adi Prayitno menilai pemerintah tidak cukup hanya menyampaikan sikap politik, tetapi harus menyiapkan langkah konkret menghadapi kemungkinan terburuk.
Menurut Adi, fokus utama Indonesia saat ini adalah mengantisipasi berbagai dampak yang paling mungkin dirasakan apabila tensi perang terus meningkat.
“Standing position Indonesia adalah bagaimana Indonesia harus mempersiapkan segala kemungkinan dampak yang paling mungkin dirasakan terkait dengan perang yang terus meningkat antara Iran melawan Amerika Serikat,” ujarnya melalui kanal YouTube miliknya, Rabu (4/3/2026).
Ia menilai sektor energi menjadi area yang paling rentan terdampak, terutama terkait kebutuhan bahan bakar minyak (BBM). Gejolak di kawasan Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia yang pada akhirnya membebani Indonesia.
Karena itu, Adi mendorong pemerintah segera menyiapkan skenario rasional guna mengantisipasi lonjakan harga maupun gangguan distribusi energi apabila konflik berkepanjangan.
“Indonesia per hari ini paling dekat adalah bagaimana menyiapkan skenario-skenario terburuk yang mungkin dianggap paling rasional untuk mengantisipasi kemungkinan gejolak di bidang BBM, mengantisipasi kenaikan dan seterusnya,” jelasnya.
Ia menekankan, langkah mitigasi tersebut krusial mengingat dampak perang sangat mungkin merembet ke dalam negeri melalui jalur ekonomi global.
“Itu jauh lebih penting karena yang terdampak dari persoalan perang ini tentu sangat dikhawatirkan berpotensi merembet ke Indonesia,” pungkasnya.














