Trump Tolak Mojtaba Khamenei: AS Ingin Ikut Tentukan Pemimpin Baru Iran

JurnalPatroliNews – Jakarta – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang krusial. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengklaim memiliki hak untuk terlibat dalam menentukan figur pemimpin masa depan Iran.

Pernyataan ini muncul di tengah intensitas serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang terus menghujam wilayah Iran hingga Kamis (5/3).

Dalam wawancara telepon dengan Reuters, Trump menegaskan sikapnya terkait suksesi kepemimpinan di Teheran pasca-tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Secara spesifik, Trump menyebut tidak mendukung Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ali Khamenei, yang selama ini digadang-gadang sebagai calon kuat pewaris takhta.

Trump menyatakan bahwa Washington ingin menjadi bagian dari proses pemilihan sosok yang akan menahkodai Iran di masa depan. Hingga saat ini, pihak Iran sendiri belum mengumumkan pengganti resmi Khamenei.

Jasad sang pemimpin tertinggi pun dikabarkan belum dimakamkan sejak tewas dalam serangan hari pertama operasi militer di Teheran pada Sabtu (28/2) lalu.

Tolak Jalur Diplomasi Tengah Perang

Di sisi lain, Trump mengeklaim bahwa pihak Teheran sempat mencoba menghubungi Gedung Putih untuk menjajaki kemungkinan kesepakatan damai guna menghentikan Operasi Epic Fury. Namun, permintaan tersebut justru mendapatkan sambutan dingin dari sang presiden.

Kepada CNN, Trump mengungkapkan bahwa dirinya memberi tahu pihak Iran bahwa upaya diplomasi tersebut sudah terlambat.

Ia menyebut saat ini militer AS dan sekutunya jauh lebih bersemangat untuk melanjutkan operasi militer dibandingkan sebelumnya. Meski begitu, Trump tidak merinci siapa pejabat Iran yang mencoba menjalin kontak tersebut.

Tuntutan Menyerah Tanpa Syarat

Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi negosiasi setengah hati. Satu-satunya jalan keluar bagi Iran untuk mengakhiri gempuran ini adalah dengan menyerah tanpa syarat.

Ketegasan ini diikuti dengan janji bahwa AS akan membantu membangun kembali ekonomi Iran dari ambang kehancuran jika Teheran mematuhi tuntutan tersebut dan merombak total kepemimpinannya.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memberikan sinyal bahwa serangan terhadap titik-titik strategis di Iran akan meningkat secara dramatis dalam waktu dekat.

Di saat yang bersamaan, militer Israel terus menggempur target di Teheran serta posisi Hizbullah di Beirut, menciptakan tekanan maksimum bagi rezim yang kini sedang pincang tersebut.