JurnalPatroliNews – Jakarta – Di tengah eskalasi konflik yang kian memanas di Timur Tengah, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada negara-negara tetangganya pada Sabtu (7/3).
Langkah diplomasi ini diambil menyusul serangkaian serangan rudal Iran yang menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa negara Teluk dan kawasan sekitarnya.
Sebelumnya, Iran meluncurkan serangan balasan terhadap Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Yordania, dan Bahrain.
Serangan tersebut merupakan respon atas operasi militer gabungan “Epic Fury” yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat ke wilayah Iran sepekan terakhir.
“Saya harus meminta maaf atas nama pribadi dan atas nama Iran kepada negara-negara tetangga yang terkena dampak serangan kami,” ujar Pezeshkian sebagaimana dikutip dari AFP.
Pezeshkian menegaskan bahwa negara-negara tetangga di kawasan tersebut pada dasarnya bukan merupakan target militer Iran, kecuali jika mereka lebih dulu memulai agresi.
Ia juga mengungkapkan bahwa Dewan Kepemimpinan Sementara Iran telah mencapai kesepakatan untuk menghentikan serangan ke wilayah negara-negara tetangga tersebut guna menjaga stabilitas regional.
Tolak Tuntutan Menyerah Tanpa Syarat
Meskipun menunjukkan sikap melunak terhadap negara-negara Arab, Pezeshkian tetap menunjukkan taringnya terhadap Washington dan Tel Aviv.
Pernyataan ini sekaligus menjadi jawaban atas tuntutan Presiden AS Donald Trump yang meminta Iran untuk menyerah tanpa syarat demi mengakhiri perang.
Dengan nada tegas, Pezeshkian menyatakan bahwa rakyat Iran tidak akan tunduk pada tekanan militer maupun politik dari pihak musuh.
“Musuh Iran harus membawa keinginan itu ke liang kubur untuk melihat rakyat Iran menyerah tanpa syarat,” tegas sang Presiden.
Sikap Iran ini menunjukkan dualisme strategi; mencoba meredam ketegangan dengan tetangga regional sambil tetap mempertahankan posisi defensif yang keras terhadap intervensi blok Barat dan Israel.
Hingga saat ini, kondisi di Teheran masih dilaporkan siaga tinggi di tengah ketidakpastian proses suksesi kepemimpinan pasca-tewasnya Ali Khamenei.











