JurnalPatroliNews – Jakarta – Eskalasi militer di perbatasan utara Israel kian memanas. Israel meluncurkan operasi udara strategis ke wilayah timur Lebanon pada Sabtu (7/3), yang dilaporkan melibatkan penurunan pasukan darat secara langsung.
Operasi besar-besaran ini mengakibatkan sedikitnya 16 orang tewas di tengah kekacauan di kawasan tersebut.
Sejumlah laporan media lokal menyebutkan bahwa militer Israel memfokuskan serangan di kota Nabi Chit, yang terletak di kawasan strategis Lembah Bekaa. Penurunan pasukan tersebut merupakan bagian dari perluasan serangan Israel pasca-penyerbuan ke Iran pada pekan lalu, mengingat posisi milisi Hizbullah sebagai sekutu utama Teheran.
Kedatangan pasukan Israel di Nabi Chit disambut dengan perlawanan sengit. Pasukan Hizbullah bersama warga setempat dilaporkan terlibat baku tembak langsung dengan tentara Israel.
“Tentara Israel akhirnya mundur dan meninggalkan lokasi menggunakan helikopter setelah melakukan penembakan intensif di Nabi Chit dan kota-kota di sekitarnya,” demikian laporan kantor berita resmi Lebanon yang dikutip dari Reuters.
Korban Jiwa dan Kerusakan
Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi angka kematian mencapai 16 orang akibat insiden tersebut. Namun, otoritas kesehatan memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa kemungkinan besar masih akan bertambah seiring proses evakuasi yang masih berjalan.
Dua sumber keamanan di Lebanon merinci bahwa tiga dari total korban tewas adalah personel tentara Lebanon. Hal ini menunjukkan bahwa serangan tersebut tidak hanya menyasar kelompok milisi, tetapi juga berdampak pada kekuatan militer resmi negara.
Sejak Israel memperluas operasi militernya ke Lebanon pekan ini, situasi kemanusiaan terus memburuk. Data sementara menunjukkan sekitar 200 orang telah kehilangan nyawa di Lebanon akibat rangkaian serangan udara dan operasi darat terbatas yang dilancarkan oleh militer Israel.













