JurnalPatroliNews – Jakarta – Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia membuka peluang kerja sama investasi sektor energi dengan perusahaan global asal China, China Energy Engineering Corporation (CEEC). Investasi tersebut berpotensi menciptakan ribuan lapangan kerja bagi masyarakat lokal di kawasan transmigrasi, termasuk di kawasan Batam Rempang Galang.
Peluang kerja sama itu dibahas dalam audiensi antara Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dan Vice President CEEC Southeast Asia Regional Headquarters, Jin Bin di Jakarta.
Iftitah menegaskan bahwa setiap investasi yang masuk ke kawasan transmigrasi harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Kami menyambut baik rencana investasi yang mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar. Prinsip kami sederhana, investasi yang masuk harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Iftitah, Minggu (8/3/2026).
Ia menjelaskan pemerintah tengah menata kawasan Pulau Rempang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang terintegrasi. Kawasan tersebut direncanakan berkembang menjadi kota industri modern dengan luas sekitar 8.000 hektare.
Sebagai bagian dari pengembangan kawasan, pemerintah juga menyiapkan berbagai infrastruktur pendukung, mulai dari pembangunan dermaga nelayan, fasilitas cold storage, hingga pendirian Kampus Patriot yang dirancang sebagai pusat pendidikan dan pelatihan tenaga kerja di kawasan transmigrasi.
“Kampus Patriot kami siapkan sebagai kampus jarak jauh dari perguruan tinggi mitra sekaligus pusat pelatihan tenaga kerja yang dapat mendukung kebutuhan industri yang masuk ke kawasan tersebut,” jelasnya.
Dalam pertemuan itu, CEEC menyampaikan minat untuk menjajaki investasi di sejumlah kawasan transmigrasi, termasuk di Rempang. Perusahaan energi global yang masuk dalam jajaran 500 perusahaan terbesar di dunia tersebut menyatakan komitmennya untuk mengutamakan penyerapan tenaga kerja lokal dalam setiap proyek.
Jin Bin mengatakan Indonesia merupakan salah satu tujuan investasi strategis bagi CEEC yang saat ini telah beroperasi di lebih dari 147 negara.
“Kami melihat Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi utama. Kami juga telah mengunjungi Pulau Rempang dan sedang mempelajari peluang investasi di kawasan tersebut,” ujar Jin Bin.
CEEC sendiri telah hadir di Indonesia sejak 1994 dan hingga kini telah mengerjakan lebih dari 100 proyek dengan total nilai kontrak sekitar 7 miliar dolar AS, terutama di sektor pembangkit listrik dan infrastruktur energi. Proyek yang ditangani mencakup pembangkit listrik tenaga uap, tenaga air, hingga tenaga surya.
Menurut Jin Bin, investasi yang direncanakan berpotensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Dalam setiap proyek, perusahaan menargetkan dapat mempekerjakan hingga 5.000 tenaga kerja dengan komposisi yang mengutamakan pekerja lokal Indonesia.
“Perbandingan tenaga kerja yang kami rencanakan adalah satu tenaga kerja dari Tiongkok untuk sepuluh tenaga kerja lokal Indonesia. Kami ingin memastikan investasi yang kami lakukan juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain membuka peluang kerja, CEEC juga menyatakan kesiapan untuk mendukung peningkatan kapasitas tenaga kerja melalui program pelatihan yang dapat disinergikan dengan fasilitas pendidikan dan pelatihan di kawasan transmigrasi.
Menteri Iftitah menambahkan pemerintah saat ini juga tengah berkoordinasi dengan BP Batam guna memastikan proses investasi di kawasan Rempang dapat berjalan kondusif dan berkelanjutan.
Menurutnya, pendekatan investasi yang mengedepankan pemberdayaan masyarakat sangat penting untuk menghindari konflik sosial yang sempat terjadi di kawasan tersebut beberapa tahun lalu.
“Jika investasi mampu menjadi solusi bagi masyarakat melalui lapangan kerja, maka dukungan masyarakat juga akan semakin kuat,” pungkas Iftitah.














