JurnalPatroliNews – WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut hubungan antara AS dan China mengalami “pengaturan ulang” setelah pertemuan terbarunya dengan Presiden China Xi Jinping.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat rapat kabinet di Gedung Putih pada Rabu, 27 Mei 2026.
Trump menilai pertemuannya dengan Xi di Beijing pada pertengahan Mei berlangsung sangat baik dan mengklaim Beijing kini memandang Washington dengan cara berbeda dibanding era pemerintahan sebelumnya.
“Selama bertahun-tahun mereka memanfaatkan kita, tetapi sekarang mereka kembali menghormati negara kita,” kata Trump, dikutip Kamis, 28 Mei 2026.
Dalam kesempatan itu, Trump juga menyoroti strategi “dominasi energi” Amerika Serikat yang menurutnya memperkuat posisi geopolitik negaranya di tengah meningkatnya ketegangan global.
Ia mengklaim produksi minyak dan gas AS saat ini bahkan melampaui gabungan produksi Rusia dan Arab Saudi.
Meski isu China hanya disinggung singkat dalam rapat kabinet tersebut, sejumlah pejabat pemerintahan Trump disebut menilai kebijakan ekonomi dan pertahanan AS kini memang difokuskan untuk menghadapi persaingan strategis dengan China serta kekuatan besar lainnya.
Dalam pertemuan terbaru di Beijing, Washington dan Beijing menyepakati sejumlah kerja sama penting meski rivalitas kedua negara masih berlangsung.
Kesepakatan tersebut mencakup peningkatan pembelian produk Amerika Serikat oleh China, mulai dari pesawat Boeing, produk pertanian seperti kedelai, hingga energi minyak dan gas asal AS.
Kedua negara juga sepakat memperluas kerja sama perdagangan dan investasi guna menjaga stabilitas hubungan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, AS dan China turut membahas kerja sama terkait rantai pasok mineral penting dan rare earth yang menjadi kebutuhan utama industri teknologi serta pertahanan modern.
Isu kecerdasan buatan (AI), pengembangan teknologi, dan stabilitas pasokan energi global juga menjadi agenda penting dalam pembicaraan kedua pemimpin.
Di bidang geopolitik, Washington dan Beijing menyinggung pentingnya menjaga stabilitas di Selat Hormuz serta membahas perkembangan konflik Iran dan isu Taiwan yang selama ini menjadi titik sensitif hubungan kedua negara.
Meski menghasilkan sejumlah kesepakatan baru, isu Taiwan, persaingan teknologi, tarif perdagangan, hingga keamanan kawasan Indo-Pasifik disebut masih menjadi sumber utama ketegangan antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut.














