JurnalPatroliNews – Pangkal Pinang- Ketegangan terkait konflik penertiban pasir Tailing hebat pecah di Desa Air Anyir, Kabupaten Bangka, pada Sabtu (7/3) pagi.
Upaya penertiban pasir tailing oleh Satgas Tricakti berujung pada bentrokan massa yang mengakibatkan tiga orang wartawan menjadi korban pengeroyokan saat sedang menjalankan tugas jurnalistik di area gudang PT PMM.
Ketiga jurnalis tersebut adalah Dedy Wahyudi (Babelfaktual.com), Frendy Primadana (Kontributor TV One), dan Wahyu Kurniawan (Suarapos.com).
Mereka tiba di lokasi sekitar pukul 10.00 WIB untuk mengonfirmasi kabar keributan antara warga dengan Satgas Tricakti pimpinan Kapten DV yang telah beredar luas di media sosial.
Keributan bermula ketika tim Satgas Tricakti menghentikan sejumlah truk pengangkut pasir tailing yang hendak memasuki area pabrik PT PMM.
Satgas mencurigai muatan tersebut adalah pasir timah ilegal. Namun, warga dan sopir truk membantah keras dengan menyatakan bahwa muatan tersebut merupakan pasir zirkon milik masyarakat dan mitra resmi perusahaan.
Situasi memanas saat ratusan warga mengepung area pabrik karena menilai tindakan Satgas berlebihan dan melampaui kewenangan. Meski sempat ada upaya mediasi dan permohonan maaf dari Kapten DV, emosi massa kembali tersulut ketika rombongan tim Satgas lainnya kembali mendatangi lokasi.
Nahas bagi para wartawan, kehadiran mereka di tengah situasi yang belum kondusif disalahartikan oleh warga sebagai bagian dari rombongan Satgas.
Massa yang terlanjur emosi melakukan pengeroyokan terhadap para jurnalis yang datang secara independen tersebut.
Amarah warga semakin tidak terkendali setelah melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan operasional Satgas Tricakti.
Di dalam mobil tersebut, warga mengaku menemukan beberapa botol dan kaleng minuman beralkohol jenis bir. Temuan ini dianggap sangat mencederai perasaan masyarakat, terlebih insiden terjadi di tengah bulan suci Ramadan.
Aktivis Bangka Belitung, M. Zen, mengecam keras tindakan anarkis terhadap jurnalis dan meminta pemerintah pusat segera mengevaluasi kewenangan Satgas Tricakti. Ia menilai pendekatan penegakan hukum yang dilakukan Satgas mengabaikan aspek sosial dan ekonomi masyarakat lokal.
“Penegakan hukum tidak boleh membabi buta, apalagi di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang sedang berjuang menjelang Idulfitri.
Kebijakan negara seharusnya tidak hanya mengejar target penindakan, tetapi juga memastikan kesejahteraan masyarakat sekitar,” tegas Zen.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Desa Air Anyir masih dalam pemantauan pihak berwajib. Kasus pengeroyokan terhadap wartawan pun tengah menjadi sorotan organisasi profesi pers di Bangka Belitung yang menuntut perlindungan bagi jurnalis di wilayah konflik.














