JurnalPatroliNews – Jakarta – Republik Islam Iran resmi mengumumkan era kepemimpinan baru di tengah situasi perang yang kian meluas. Majelis Pakar Iran pada Minggu (8/3) menunjuk Mojtaba Khamenei (56) sebagai Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) ketiga.
menggantikan mendiang ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Penunjukan Mojtaba dilakukan secara aklamasi oleh badan ulama tertinggi di Iran tersebut. “Diangkat dan diperkenalkan sebagai pemimpin ketiga dari sistem suci Republik Islam Iran, berdasarkan suara yang menentukan dari perwakilan terhormat Majelis Pakar,” tulis pernyataan resmi Majelis Pakar yang dikutip dari AFP.
Tragedi Keluarga Khamenei
Laporan terbaru mengungkap bahwa serangan udara ke markas besar di Teheran pada Sabtu (28/2) pagi tersebut tidak hanya merenggut nyawa Ali Khamenei, tetapi juga melumpuhkan inti keluarga besar pemimpin tertinggi. Istri Mojtaba, Zahra Haddad-Adel, dilaporkan tewas dalam insiden tersebut.
Zahra merupakan putri dari politikus konservatif ternama sekaligus mantan Ketua Parlemen Iran, Gholam-Ali Haddad-Adel. Pasangan Mojtaba dan Zahra diketahui menikah sejak 1999 dan memiliki tiga orang anak.
Selain Zahra, agresi tersebut juga menewaskan seorang cucu perempuan Ali Khamenei yang masih balita, sementara istri Ali Khamenei dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis selama beberapa hari akibat luka berat.
Sinyal Ketegasan Teheran
Meski terpukul oleh kehilangan personal yang mendalam, Majelis Pakar Iran menegaskan bahwa mereka tidak ragu sedikit pun dalam menentukan arah kepemimpinan baru demi menjaga stabilitas negara.
Terpilihnya Mojtaba, yang selama ini dikenal memiliki pengaruh kuat di balik layar politik Iran, dipandang sebagai sinyal keberlanjutan garis keras Teheran terhadap ancaman luar.
“Badan ulama tidak ragu sedetik pun dalam memilih pemimpin baru meskipun terjadi agresi brutal dari Amerika Serikat dan Israel,” tegas pernyataan tersebut.
Kini, dengan Mojtaba Khamenei di puncak kekuasaan, mata dunia tertuju pada bagaimana Iran akan merespons eskalasi militer yang telah menjalar ke berbagai titik di Timur Tengah. Penunjukan ini menandai babak baru yang penuh ketidakpastian dalam hubungan geopolitik global.












