JurnalPatroliNews – Jakarta – Di atas riak Sungai Musi yang terkadang pasang, sebuah perahu getek kecil membelah ombak dengan muatan yang tak biasa.
Bukan sekadar penumpang atau barang dagangan, perahu ini membawa ribuan porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) demi memastikan anak-anak di wilayah Gandus, Palembang, mendapatkan hak nutrisi mereka.
Perjalanan distribusi MBG di wilayah ini adalah potret nyata perjuangan menembus keterbatasan akses. Tim Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gandus setiap harinya harus berhadapan dengan medan berat: mulai dari jalan tanah yang berubah menjadi kubangan lumpur saat hujan, hingga stabilitas perahu yang diuji arus sungai saat membawa ratusan wadah makanan.
Kepala SPPG Gandus, Deni Rahmadi Putra, mengungkapkan bahwa sejak beroperasi pada 23 September 2025, dapur gizi yang dipimpinnya telah melayani sekitar 3.022 penerima manfaat.
Namun, tiga sekolah yakni SD 152, SD 153, dan SD 154, hanya bisa dijangkau melalui jalur perairan.
“Saat air pasang, ombak sungai sering kali kuat dan memengaruhi stabilitas perahu. Belum lagi akses ke dermaga yang masih berupa tanah; kalau hujan, kendaraan kami sulit melintas karena licin,” jelas Deni saat ditemui di Dermaga Sungai Musi, Senin (9/3).
Pemberdayaan Ekonomi Lokal
Program MBG tidak hanya membawa dampak pada kesehatan anak, tetapi juga menjadi napas baru bagi ekonomi warga setempat. Rizal Efendi, warga Selat Punai, kini menjadi bagian penting dalam rantai distribusi ini.
Sebagai pengemudi perahu, Rizal setiap hari kerja mengantar makanan ke sekolah-sekolah di seberang sungai.
“Adanya MBG ini membuat saya sangat terbantu karena ada tambahan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari,” aku Rizal.
Manfaat ganda juga dirasakan Rizal sebagai orang tua. Anak-anaknya yang bersekolah kini menerima asupan bergizi secara rutin, yang secara langsung memangkas biaya uang jajan harian.
“Biasanya anak jajan sampai sepuluh ribu, sekarang lima ribu saja cukup karena mereka sudah kenyang makan di sekolah,” tambahnya.
Membangun Generasi Emas 2045
Bagi Deni dan tim SPPG Gandus, menembus jalur sungai dan melewati jalan rusak bukan lagi sekadar rutinitas pekerjaan, melainkan sebuah misi kemanusiaan.
Program ini menyasar tidak hanya siswa sekolah, tetapi juga ibu hamil dan menyusui di wilayah pelosok.
“Kami merasakan ini bukan hanya sebuah pekerjaan, melainkan sebuah arti. Arti kepedulian terhadap anak-anak dan masa depan bangsa,” ungkap Deni optimistis.
Melalui dedikasi yang tak surut oleh lumpur maupun ombak, SPPG Gandus berharap kontribusi ini menjadi fondasi kuat bagi lahirnya Generasi Emas Indonesia 2045.
Selama masih ada anak yang menunggu di ujung dermaga, perahu getek pengantar gizi ini akan terus mengayun membelah Sungai Musi.














