Amerika Dinilai Salah Perhitungan dalam Perang Melawan Iran

JurnalPatroliNews – Jakarta – Konflik militer yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran selama hampir dua pekan terakhir dinilai berkembang jauh lebih kompleks dari perkiraan awal Washington.

Dalam analisis yang dimuat media Rusia RT, pengamat geopolitik Farhad Ibragimov menyebut strategi Amerika sejak awal dibangun di atas asumsi yang terlalu optimistis mengenai kemungkinan runtuhnya sistem politik Iran secara cepat.

Menurutnya, Washington memperkirakan serangan militer besar akan segera melemahkan Iran dan bahkan memicu keruntuhan pemerintahan hanya dalam satu atau dua hari pertama konflik. Asumsi tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa serangan terhadap kepemimpinan negara akan menimbulkan efek domino berupa kekacauan di kalangan elite politik, lumpuhnya institusi negara, hingga runtuhnya struktur pemerintahan.

Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan kondisi berbeda. Meski berada di bawah tekanan militer yang intens, Iran dinilai tidak menunjukkan tanda-tanda keruntuhan sistemik. Lembaga pemerintahan tetap berjalan, proses pengambilan keputusan terus berlangsung, dan struktur negara masih terkendali meskipun Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada hari pertama perang.

Sebagai bagian dari mekanisme politik negara tersebut, Majelis Pakar Iran kemudian menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Penunjukan ini dinilai menunjukkan bahwa sistem politik Iran memiliki struktur kelembagaan yang mampu menjaga kesinambungan kekuasaan bahkan dalam situasi krisis besar.

Ibragimov menilai ketahanan tersebut tidak terlepas dari pengalaman panjang Iran menghadapi tekanan eksternal, mulai dari konflik Perang Iran–Irak hingga puluhan tahun sanksi internasional sejak Revolusi Islam Iran 1979.

Model negara yang memadukan legitimasi religius, aparat keamanan yang kuat, serta struktur pemerintahan yang fleksibel dinilai memungkinkan Iran bertahan dalam tekanan ekstrem.

Di sisi lain, analis tersebut juga menyoroti inkonsistensi pernyataan pemerintahan Presiden Donald Trump terkait tujuan perang. Pada awal konflik, Washington disebut menargetkan perubahan rezim di Iran. Namun seiring waktu, narasi tersebut bergeser menjadi upaya demiliterisasi Iran dan pembatasan kemampuan militernya.

Menurut Ibragimov, perubahan retorika tersebut menunjukkan adanya ketidakjelasan strategi dalam operasi militer yang dijalankan Amerika Serikat dan sekutunya.

“Harapan awal Washington akan pelemahan Iran yang cepat tidak terwujud. Sebaliknya, situasi saat ini menunjukkan bahwa Republik Islam sedang menghadapi ujian berat dan siap menunjukkan ketahanannya terhadap tekanan eksternal,” tulisnya.

Ia menilai perkembangan terbaru ini menegaskan bahwa konflik yang sedang berlangsung bukan sekadar perang militer, melainkan juga ujian besar terhadap stabilitas politik dan ketahanan sistem pemerintahan Iran.